Sunday, March 8, 2026

Poi Barolek 15

 POI BAROLEK

15


Sanak,.

Ibarat ayam jago, laga itu hanya "sa galobang" saja. Tak sampai bakuhantam sepak terjang dan peluk hempas. Sebab seorang uda , emosi juga melihat Abuca," Malawan pulo ang ieh, lah joleh salah. Den tunaman ang ka dalam sinama keh!!" Melihat mata yang membelalak, dan badan lebih besar, Abuca kalah mental. Mukanya pucat. Sudut bibirnya, tiba-tiba bergerak - gerak ke bawah. Mewek! Lalu sambil mengoleskan punggung tangan ke mata, ia berpaling. Menjinjing sandal dan pergi setengah berlari. Di pematang dia masih "madok baliak" dan menceracau. Entah apa yg disebutnya. Mungkin, " tengok dek ang, lalu muko umah den!" Kamipun balik pulang ke rumah. Sinama itu indah. Tapi Sinama juga bisa mangambil nyawa,....


Teman, belajar di klas 5 , terasa enak. Pertama, Buyuang dibolehkan ibu membawa sepeda. Ontel merek valuas, coklat kemerahan. Dengan ontel ini, Buyuang bisa sekalian mrenolong guru kelas, bu Baya, pulang ke Ampang Godang, setelah jam pelajaran berakhir. Bu Baya paginya diantar. Pulangnya, ngajak Buyuang ke Ampang Godang, lalu Buyuang kembali sendirian ke Kotokociak. Dibonceng bu Guru sepulang sekolah itu, membanggakan. Apalagi, Buyuang juara 1 di raport. Juara 1 ini dimungkinkan, sebab murid terpintar di klas kami, Ardi Jamal, pindah ke Tanjung Jati. SD Tanjung Jati waktu itu berpredikat unggul. Itulah jalan, yang membuat Buyuang merasakan juara klas.

Klas 5 juga ditandai dengan nonton El Soraya ke SD Padang Jopang. Pun juga nonton sandiwara pentas drama Melayu Deli di SD Tanjung Jati. Klas 5 adalah kesempatan terakhir untuk menikmati keleluasaan belajar. Sebab klas 6, belajar mulai fokus bersaing nilai, untuk ke SMP. Jika rendah nilai, takkan diterima di SMP n Dangung-Dangung yg tersohor seAsia Tenggara..... Maka bu Ulih, meminta siswa kursus tambahan, ke rumahnya di Ampang Godang. Naik sepeda. Bawa bekal. Besok pagi Minggu, kembali "menggantiah keta" ke Congkong. Untungnya, anak bu Ulih, Mariyeti, sekelas dengan Buyuang. Jadi kamii semua dianggap anak oleh bu Ulih. Terimakasih bu Ulih. Terimakasih bu Baya, buEmi, bu Tinar, dan bu Eli.

Jika Buyuang berdoa, Allahummaghfirlana, zunubana, wa li aba ina, wa li ummahatina, wa li jaddatina, wa li ajdatina, wa li akrabina, wa li akrabatina, wa li masa ikhina, wa li man hadana ila khair.... maka semua bu guru dan pak guru, tercakup dalam frase ujung, wa li man hadana ila khair. Orang yang membimbing di jalan kebaikan.

Aamiin.


Tamat.

Banyak mooh di nan khilaf, bakeh Tuhan ampun dipintak.

Saturday, March 7, 2026

Poi Barolek 14

 POI BAROLEK 

14


Ke sawah Sinama Buyuang kembali. Main layangan dan berkecimpung mandi.

Itu mirip lirik lagu Kusplus ya kawan? Ke Jakarta aku kan kembali, walau apa yang kan terjadiii....🎡🎢


Ya. Sinama itu adalah kehidupan. Ia memberi air sawah melalui tadah kincir air. Ia memberi ikan lonjieng melalui popah kincir. Ia memberi tibarau dan mansai melalui mata pancing. Ia memberi udang yang memerah , terbakar matahari menyengat batu. Ia juga memberi pasir dan kerikil untuk bangunan. Ia memberi puyu dan sapek di sela bonto pinggiran. Dan ia memberi keceriaan berenang seharian. Ia juga memberi keteduhan dalam senandung gemercik sela batu dan tiang kayu..... Jika engkau pulang, wahai dagang rantau, sentuhlah air sinama dengan jemarimu... basuhlah muka dan tangan kakimu...

Di pinggirnya ada aur dan betung. Ada beringin dan ampolu. Ada murbei merah jambu. Rasa buah murbei itu manis sendu...


Jika lelah jiwa ragamu

Sempatkan "mencangkuang" sejenak di tepinya.

Sekedar memandang buih berkejaran dari hulu

Terayun ayun, mengangguk-angguk, senyum menyapa...


Bagi Buyuang, Sinama tak sekedar inspirasi, tapi juga biang kematian. Sudah dinasehati nenek dan ibu, jika "aia koruah" jangan mandi. Tapi rombongan kami, Sid Fuad, Liman, dan da Buyuang Picak jika tak salah ingat, juga It dan Icun, sepakat, gak apa-apa mandi, asal di pinggiran. Di tempat yang tak terlalu dalam dan deras. 

Maka baju dibuka. Juga celana. Byur! Di pinggiran saja...


Datanglah Abuca. Anak berkulit hitam, berambut tegak. Umurnya di bawah Buyuang, Icun dan It. Dia tak biasanya ikut main dengan kami. Dia lalu ikut nyemplung. Dan saat berenang dekat Buyuang Mipih, dia dorong Buyuang ke tengah. Ke arus deras dan dalam. Persis di atas kincir pak Aneh. 

Cepat Buyuang mengibaskan tangan. Menepi. Untung tersenggol rumput kumpai. Spontan Buyuang berpegang. Dan cepat menepi. Dada berdebar. Abuca tertawa-tawa. Buyuang berhenti mandi. Naik ke darat.

"Ba dek lah baronti?" tanya uda-uda itu. 

"Den ditulak-an Abuca ka tongah, ampie bona diputea kincia kok indak tapogang jo umpuk!"

Uda-uda itu terdiam. Mereka memandang ke Abuca. Abuca berhenti berenang. Menunduk, dia naik ke tepian. Mengambil pakaian. Mungkin berniat kabur.

Tapi uda-uda itu, ditambah Icun dan It mencegahnya. "Iyo ang tulak-an adiak kami!" Uda-uda bertanya. Abuca menunduk. Sambil berangsur memasang celana. Entah siapa yang bilang, tenju kapalo eh,..maka Icun langsung mengayunkan kepalannya. Tak kena. Cuma garegak saja. It pun mendekat. Bersiap memberi bogem mentah. Abuca bersurut, tapi ia mulai memasang kuda-kuda. Tak ada pilihan lain, selain "bacokak", mungkin begiti fikirnya. Maka Buyuang mengambil kesempatan. Ikut mengurung Abuca dengan jemari terkepal. Ampiang mati den cako, dek ulah ang!!

Poi Barolek 13

 POI BAROLEK


13


Ketimbang mengaji di surau malam-malam, elok pulo lah ke Darul Hikmah siang atau sore sepulang sekolah. Muridnya tak membludak dan durasi bisa dari pagi sampai sore. Asalkan Tuk Oji Mali tidak sedang makan, tidak sedang di toilet. Tuk Oji malah senang murid bergantian datang, tak serempak. Beliau bisa fokus menyimak dan membetulkan lafaz tajwid.

Jika beliau sedang makan atau buang air, kita bisa sabar nunggu di teras atas. Sambil melihat-lihat orang lewat di jalan. Kadang pak Wali menggantiah keta arah ke mudiak. Atau Idun Gantang mendorong gerobak arah ke hilir. Ataupun, Kotik Kileh pergi mengaji ke Tobieng Runtuah..

Sesaat, Tuk Oji Mali, naik ke lantai dua. Berangsur-angsur. Memakai tongkat. Badan beliau besar dan tangga agak tinggi. Terkadang beliau berhenti dulu sejenak di pertengahan. Sabar.


Lalu beliau sampai di lantai atas. Memandang murid dengan senyum. Berjalan ke teras dekat pintu. "Menjanguah" ke jalan, lalu duduk, setelah tongkat beliau sandarkan.

"Bacolah. Surek apo kapotang?"

"Al Baqarah roka' ka tigo, Atuk"

"Iyo. Auzubilah basmalah..."

Diam sejenak. Mengambil nafas. Memandang halaman Quran dengan fokus. Lalu mengumandangkan taawudz dan basmalah. Sewaktu itu, nawaitu Buyuang, baru sekedar ingin dinilai pintar oleh guru, bacaan dialun dicengkokkan. Jauh dari mencari haribaan kasih murni dari Tuhan...


Nde bilalang!

Tak jua bersua Siti Hindun di Mushalla. Sudah berkali kali pergi mengaji di jam istirahat. Dia tiada pernah terlihat.


Andai, saat turun di tangga mushalla, lalu berpapasan,..ah. ...Atau ketika masih mengaji, Siti datang dengan tenannya.....duh!


Lalu, kenapa terlihat dia mengaji minggu lalu? Apakah itu aksidental saja? Biasanya sore, lalu karena satu hal, dimajukan pagi? Entahlah. Tuhan Yang Maha Tau. ...


Sebulan dua bulan, berhenti pula lah Buyuang les ngaji. Tak dipungkiri, habis motivasi. Ke sawah Sinama, Buyuang kembali. Main Layangan dan berkecimpung mandi....

Friday, March 6, 2026

Poi Barolek 12

 POI BAROLEK


12


Alternatif lain jajan adalah seberang pajak Tuk Nuran. Kios buku komik. Ya, dulu toko ini pernah jadi sewaan buku komik. Berbagai macam judul. Disusun di rak dinding dan dalam etalase. Anak-anak membaca buku komik, seakan menonton film. Imajinasi tertuang via gambar ilustrasi. Umumnya cerita persilatan, semacam Wiro Sableng dan Siluman Tengkorak Bolong. Dalam gambar, terlihat jelas jurus tangan menangkis pukulan, lengkap dengan garis angin tiupan dan percik energi yang ditimbulkannya. Dengan jajan Rp 5,- udah bisa baca satu buku. Sering, buku belum tamat, lonceng tanda masuk sudang terdengar bergema dari jauh. Lalu buru-buru , mengembalikan buku dan berlari ke lokal.


Teman.

Keasyikan membaca komik ini, seperti candu. Kita terbawa ke dalam khayal dunia pengarang. Badan duduk di bangku pajak, perasaan ikut pendekar pemberantas kemunkaran. Bagai dalam mimpi.


Sekali waktu, mimpi menemani pdndekar itu, terusik. Nun dari ketinggian teras mushalla Darul Hikmah, terdengar alunan merdu anak perempuan membaca Quran. Buyuang menoleh. Dua anak perempuan kecil, berpakaian putih , disimak bacaannya oleh garin mushalla. Tuk Oji Mali.

Tunggu, tidakkah itu Siti Hindun dan seorang temannya? Sebab, ditutup seadanya dengan "takuluak", rambut kepang dua kentara terlihat. Suaranya khas anak-anak. Bening bersih melengking. .......Rabbi laa tazarni fardan, wa Anta khairul waaarisiiiinn..." Cengkok alunannya mungkin biasa saja, tapi tajwid dan pelafazan hurufnya , "yobona rancak". Terkesima!


Jadi, di mushalla, ada privat les baca Quran ya? Dengan Tuk Oji Mali? Bukankah Tuk Oji Mali populer kemampuan qiroahnya di antero nagari?


"Bu. Den tagak soto baraja ngaji jo Tuk Oji Mali. Kaluea main, bisa ka mushalla." Buyuang Mipih taragak ikutan. Entah apa pula motivasi nawaitu Buyuang!!

Poi Barolek 11

 POI BAROLEK


11


Kalau tidak hari ini, mungkin minggu depan. Jika tidak minggu ini, mungkin bulan depan. Dan andai tidak bulan ini, tentu tahun depan. Itu, syair lagu yang lagi populer kan, dusanak?

Dua tahun di gedung ilia, kembali ke bangunan official,  SD 5 Talago. Mah Sikola Mudiak! Klas lima, sudah.....alhamdulillah jika klas 3 bersama bu Tinar, klas 4 dengan bu Emi, maka kini dibimbing bu Baya. Rumah beliau di Ampang Godang. Jadi, ada beberapa  bu guru Ampang Godang mencerdaskan putra putri Kotokociak. Bu Baya, Bu Seha dan bu Ulih. Bu Ulih, mengajar klas 6.


Aduh, perubahan tempat klas 5 artinya juga perubahan lokasi klas 3. "Belalang" kini giliran pindah ke Ilia..

Belalang? Ya. Atau kita sebut saja Siti Hindun. Nama yang umum di buku pelajaran SD zaman dulu. Seperti halnya, Fulan, untuk laki-laki. Sebab, jika ditulis nama aslinya, yang kini sudah diketahui Buyuang dari teman-teman, maka pembaca sekelas Ucok, akan dengan mudah merunut siapa mayai bapaknya, siapa mamak pengulunya, dimana rumahnya, dimana dia kini, dan siapa lakinya. . Bisa guling-guling Mogek dek kesenangan. Jan lai.....!!

Poi Barolek 10

 POI BAROLEK

10

Namun setidaknya, ada tiga hal yang teringat oleh Buyuang Mipih saat belajar di sekolah "ilia". 

Pertama, karena sudah mulai ada PR klas 3 dan badan yang tak kuat dingin udara baruah, maka tak lagi ke surau. Pendidikan agama, dicukupkan di sekolah, dan sama ibu di rumah. Sebelum tidur, ibu biasa bercerita tentang dongeng apa saja, semisal bertengkar tapi berbisik, emas warisan dalam tanah kebun, dll. Kami, Buyuang, sid Fuad dan Mardiah duduk di sekeliling ibu, diterangi lampu minyak tanah, yang kadang bisa padam jika ada angin kencang, atau tiba-tiba dihinggapi Camih di nyala apinya. Teman, tau kan, Camih? Itu, kupu kecil warna gelap , ngengat, yang suka cahaya malam. Fototrop positif. Sebenarnya ini bukan kupu (butterfly) tapi ngengat (moth). Butterfly itu, berwarna warni dan aktif di siang hari. 

Selain dongeng dan cerita, pernah juga ibu membacakan buku kisah perjuangan Rasul Muhammad saw. Bukunya tipis, bukan kayak karya Almubarakfury sekarang. Tapi ibu membacanya dengan penuh perasaan. Di paragraf Beliau saw dilempari kotoran unta dan kerikil, kami, tiga-tiganya menangis.  Lalu ibu menghentikan membaca. Beliau juga menyapukan jemari ke pelupuk mata, dan kami tidur...


Untungnya, pemerintahan jorong dan tokoh masyarakat, bersepakat membentuk Madrasah Awaliyah, lembaga pendidikan agama dari , oleh dan untuk masyarakat. Lokasinya, sekolah ilia. Waktunya, sore. Dan ibu, salah seorang yang diminta ikut mengajar. Ibu berkirim surat ke Padang, minta izin ke bapak. Diizinkan. Hingga, dua kali seminggu, Buyuang Mipih, Sid Fuad, kadang Mardiah ikut, menemani ibu mengajar. Muridnya, teman-teman sesama SD juga. Materinya, ayat pendek dan doa. Disinilah, Buyuang Mipih belajar doa untuk ibu bapak: Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma, kama Rabbayani saghira. Gak enaknya, karena kita anak bu guru, akan malu jika tak hafal. Beban!

Untunglah, Madrasah itu tak lama umurnya, ia seperti murid mengaji dimanapun; angek-angek cirik ayam. Hari demi hari, muridnya berkurang satu per satu. Lalu lenyap ditelan waktu. Tak ada lagi beban anak bu guru...


Hal kedua, adalah, berita gembira. Sid Fuad terpilih jadi murid teladan se kecamatan. Ada hadiahnya, walau telat diberikan. Dan ibu, membawa kami bertiga ke Payakumbuh, ke studio foto, untuk "bakodak". Tentu saja Buyuang gembira. Sebab akan memakai baju rancak, naik mobil ke Kota Kabupaten, dan tentu, sebelum pulang makan sate! Horeee....


Hal ketiga, karena tak ada lagi madrasah, Ipun, Ayang, Iwan, dan Liman, ngajak sid Fuad ngaji ke Padang Jopang. Sekali seminggu, Sabtu malam. Gurunya Pak Mamat. Rumahnya depan pokan Sinoyan. Muridnya ramai membludak. Padahal, beliau jika marah, cemeti rotan akan "berbicara". Jika kulit alergian, bekasnya memerah sampai pagi. Tiga kali salah membaca, padahal sudah diejakan beliau, maka , pik! Alamat meringis menanggung sakit. Buyuang merengek ikut. Menggunakan otoritas ibu, Sid Fuad bersedia membonceng pulang pergi. Melihat ada yang kena rotan, mental Buyuang ciut! Ia berusaha untuk tak salah baca. Alhamdulillah, amanπŸ™πŸ™

Poi Barolek 9

 POI BAROLEK

9


Agak lama dia nanap. Mungkin terkejut bertatapan, lalu frekuensi memori bekerja di otak, ujungnya: senyum. Ya , itu betul, gadis kecil yang bersua di rumah "rang barolek". Buyuang, melihat senyum, spontan senyum juga. Tak tau. Entah kenapa. Ingin Buyuang melafaz sebuah kata..."belalang!"

Tapi tak bergerak bibirnya. Lalu anak kecil itu cepat membelokkan wajahnya. Memandang mak nya. Yang berdiri tak jauh, di tuturan atap lokal klas 2.


Buyuang beberapa kali menatap lagi. Tapi tak berpandangan. Kadang terhalang oleh kepala murid lain.


Siswa klas 6, disuruh menyiapkan barisan. Semua rapi. Kecuali gerombolan murid baru, yang diatur berdiri nya oleh bu Eli. Dan pengumuman tentang pembagian area belajar itu, tiba. Seperti diduga, pak Awiskarni, yang pakai peci dan kacamata, berbaju putih pentolan krem, menyampaikan, karena keterbatasan ruang klas, maka klas 3 dan klas 4, belajar di gedung "ilia". Guru klas Buyuang, berganti dari bu Eli ke bu Tinar. Dan siswa klas 3 serta 4, berombongan, pindah. Sedih juga, pindah dari sekolah asri ke bangunan tua. Apa boleh buat. Toh, karena rame-rame, asyik juga... O iya, ini artinya, tak lagi bertemu dengan murid baru berkepang dua, belalang di rambutnya!. 

Teman, sejak klas 3 ini, Buyuang mulai ikut-ikutan makai minyak rambut uda nya. Pasta hijau dalam kaleng berbentuk elip. Ada gambar orang memakai rok panjang, dan tulisan Lavender Pomade di pinggirnya. Entah, pengen aja. 


Hari-hari berikutnya, rutinitas saja. Tak ada yang istimewa. Tak lagi belanja pical dan kacemuh. Di bawah pohon pojok halaman brlakang.


Tiap Kamis kan diberi jajan lima rupiah oleh ibu. Itu cukup untuk "two pieces" kacemuh. Irisan-irisan ubi kayu rebus, ditata bulat mirip sarabi, disiram kuah gula aren beraroma pandan.  Dimakan di piring kecil. Dengan sendok tapak itik. Sambil berdiri. Ya, kayak prasmanan taman orang-orang kini. Tak ada jajanan yang sanggup mengalahkan lezatnya.

Poi Barolek 8

 POI BAROLEK


(8)


Alhamdulillah, kawan.

Sekali dua kali minum pil obat mantari Tanjung Jati, terasa ringan demam Buyuang. Besoknya ia sudah main lagi ke halaman. Melukis imajinasinya di tanah. Tak pergi dia ke Rumah Godang, apalagi ke Sinama. Ibunya bisa marah, jika belum sembuh sekali, sudah malala...


Hari ke dua sudah sehat. Tapi obat di kantong plastik masih tersisa. Kata pak mantri, minum sampai habis. Maka dia minum sampai hari ke tiga. Satu diantara tiga jenis itu, pahit. Tapi apa boleh buat, "cirit kambing bulat-bulat",...


Jika tak sembuh seperti sekarang, alamat takkan bisa masuk sekolah, besok. Ya, besok Senin, dan ia akan menjadi murid klas tiga. Kata murid yg lebih tua, klas tiga itu belajar di gedung lama, nun depan pajak pak Duwani, dekat pajak Tuk Carih. Lokalnya lebih lebar, halaman luas, tapi kalah asri dibanding yg sebelah barat. Apa mau dikata, yang jelas besok pagi kumpul berbaris dulu di "mahsikola mudiak". Nanti pak Awiskarni yang akan mengumumkan, lokasi ruang belajar.


Maka pagi Senin, Buyuang sudah bangun. Shalat subuh, mandi cotok ayam, pakai baju rapi, sarapan. Pagi ini ibu merebus telur ayam. Ayam "panjang tolua" Sid Fuad sudah belasan narok telur di sangkak. Kata ibu, untuk dierami cukup sepuluh saja. Kebanyakan anak, ntar juga pada mati. Ada yang nyemplung ke kolam, ada yang runguah sakit, dan kadang disambar elang di tengah kebun.

Maka telur rebus, dibelah ibu jadi dua bagian. Setengah untuk sid Fuad dan setengah untuk Buyuang. Sesekali makan telur rebus, enak juga ya? Apalagi bagian tengah bundar kuning kebiruan ini, gurih. Pagi yang indah....


Di halaman belakang sekolah mulai ramai. Buyuang mencari teman kelasnya. Ih Saik, Das Kinah, Iwan Sidun, Oyong, Iwan Turiah, Adam, Pendi, Busra, Adek dan mulai mengelompok membentuk barisan. Anak-anak perempuan di depan; Inen, Etis, Tuti, Is, Inda, Timah, Pini, dan lainnya.


Di barisan sebelah kirinya, murid klas dua. Baru naik dari klas satu. Dan di kirinya lagi, murid baru. Klas satu, yang wajahnya masih ragil takut-takut. Mereka didampingi oleh orang tua. Umumnya ibu-ibu. Lihat, yang laki-laki ternganga memandang sekitar, dan yang perempuan, begitu pula. Ada yang bedaknya tebal. Mungkin Viva no 14.


Dan, amboi, bukankah yang berdiri agak di depan itu, gadis kecil sesama poi barolek dulu? Ya! Rambutnya dijalin kepang dua. Kepalanya kecil. Matanya bulat. Jelas! Pasti!

Anak yang dulu di rambutnya hinggap belalang hijau. Lalu dia bantu menangkapkannya. Jika tak malu, ingin Buyuang Mipih mendekat. Apakah senyumnya masih manis seperti permen di pajak bang Dimea Congkong?

Entah bagaimana, lama-lama, anak klas satu baru, kepang dua itu, menoleh juga...

🀭🀭🀭

Tuesday, March 3, 2026

Poi Barolek 7

 POI BAROLEK

(7)


Tak taulah Buyuang Mipih, sudah jam berapa larut malam. Uda-uda yang remaja itu masih ngobrol. Buyuang mana biasa tidur larut malam. Sehabis makan nasi hangat belut balado, matanya mulai redup. Maka dia menepi, merebahkan badan dekat dinding kamar belakang surau yang dipenuhi karung sumpik berisi padi. Sesekali bunyi itik mendesis dari bawah lantai. Di teras luar, sayup terdengar uda-uda maota. Topiknya bermacam-macam. Kadang diselingi tawa terbahak. Terdengar pujian, bahwa Ita itu cantik. Lalu yang lain menyela, Iwit juga coga. Antara terjaga dan tidur, masih sayup topik pembicaraan tentang cita-cita ingin seperti bang Dimea, punya toko, punya mobil dan istrinya bagai rembulan. Lalu diam. Entah, memang diam benaran, atau Buyuang Mipih larut tidur lelap berbalut sarung pudar......


Teman,

Kata orang baik dan buruk itu dipergantikan. Tawa dan tangis juga begitu. Mujur tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak. Besoknya, Buyuang Mipih demam panas. Dia merengek ke ibunya. Selera patah. Bersin-bersin. Tiduran. Dan kadang terasa dingin.

Mulailah ibunya menyiasati, habis main apa, makan apa, dimana. "Bagodang. Pek longgea...." jawab Buyuang. Ibunya mengatupkan bibir. Anak tiga orang dia asuh tiap hari. Bapak, nun di Padang, baru saja pindah dari Sangir, Solok Selatan. Bapak pulang sekali tiga bulan. Maka sakit-senang dikunyah ibu, sendiri. Untuk berkonsultasi, ada Nenek dan Kakek. Nenek itu, petani penjual tiap Kamis. Kakek, mdmotong rambut orang sekampung, tiap Kamis , nun di pajak 50 m timur Simpang Congkong.

"Kok tatogun? Siramlah jo aia sitawea sidingin. Mintak ubek ka Tanjuang Jati!" Saran Nenek.

"Salemo domam reh, ka toko ubek ajolah. Pek pandakian lopeh simpang Talago ka Tanjuang Jati,..." tukas Kakek.

Ibu mrmetik sitawea sidingin sikumpai sikorau di baruah, dekat mata air pincuran mandi. Dia rendam di mangkok dan Buyuang diperciki airnya. " Bismillah,.." Siiiir....dingin mengejutkan. Tapi ia tahankan saja. Ia tak mau ibunya sedih.

Besoknya tak sembuh juga. Maka dibonceng Buyuang Mipih kecil ke toko obat Batas Talago Tanjung Jati. Di rumah toko yang terasnya dari beton, Buyuang terduduk. Ibu memanggil "mantri obat". Dari jendela yang terbuka, muncul seorang lelaki paro baya.  Pembawaannya dingin. Keningnya rada botak. Memakai kaus oblong putih. Mungkin mereknya swan, yang ada gambar angsa merah di kuduknya.

Lalu ibu menceritakan keadaan Buyuang. Lelaki itu memandang dengan seksama. 

"Co apak osok konyiang ang!" Katanya. Lalu tangannya mengusap kening. Buyuang , entah kenapa, dipegang begitu, udah serasa nyaman, sembuh.

Lalu lelaki itu masuk ke dalam. Ibu menunggu. Lama. Lebih 10 menit. Setelah keluar, ia membawa pil dalam kantong plastik. Tiga macam. Iko INH, iko Trisulfa. Minum pagi jo sonjo..." pesannya.

"Iko bodrexin. Sakali sapagi ajo.!" Tambah beliau. 

"Bara piti eh ko Tuan?" Tanya Ibu.

"Ompek puluah rupiah...."jawab bapak itu. Dan kami kembali pulang. Digonceng ibu. Sepeda ontel merek Valuas. Berderit-derit gesekan gowesnya menyentuh tutup rantai, melintas bebatuan menuju Simpang Congkong.

"Nan kadatang, olah reh bagodang juo! Badan ang indak sakuek urang do. Lotiak-lotiak. Kalau lah sakik, marano sorang, kojo kacewo, piti abih!"

Buyuang menekur di boncengan. Dalam hidup dia hanya Ibu yang sepenuh hati menyayangi.....

Monday, March 2, 2026

Poi Barolek 6

 POI BAROLEK 


6


Setelah shalat, berlarian mendaki tanjakan tebing, pulang. Piring kosong di tangan. Sarung, yang warnanya memudar, membelit leher. Tebing nanjak belok kiri, belok kanan, melewati batang Kalumpang besar, yang akar banirnya menonjol di lubang pasir tebing, lalu sampai di jalan mendatar. Terengah-engah berlari, ganti baju yang bersih, ambil batu tulis, sarapan dan jalan ke sekolah.


Teman,

Belum ada seragam sekolah tahun itu. Juga belum disuruh pakai sepatu. Seragam putih dongker baru dimulai sekitar 1974. Dongker itu, istilah ibuku untuk ungu tua. Deep purple!

Warna itu kemudian berubah secara nasional jadi merah putih. Begitu juga SMP, awalnya abu-abu putih, berubah jadi dongker putih, dan abu-abu jadi milik SMA.

Sebagian teman memakai sandal partakus, lainnya sulap lily, sisanya "tarompah jopang". Belajar klas 1 dan 2 di gedung barat ( mah sikola mudiak) klas 3 dan 4 di gedung lama ( mah sikola ilie) dan klas 5 serta 6 kembali ke gedung barat.

Pulang sekolah, simpan batu tulis, makan dan main. Rumah Godang Pitopang, Pajak Mak Imam Padang, Masojik , sawah dan Sinama, adalah arena bermain kami, anak kampung. Sore kembali menyungkup, Buyuang Mipih melangkah ke surau, dengan sepiring nasi, lauk sapek siam, samba karambia, menuju surau. Di halaman surau, nasi sudah tandeh. Lunas!

Jika kami anak-anak mendapat kabar dari Uluk, bahwa mak Imam tak ke surau malam ini, maka anak-anak yang lebih besar, lansung membuat rencana, begadang, sehabis mencari belut. Uluk, adalah anak mak Anwar Imam. Umurnya, beberapa tahun lebih tua dari Buyuang.


Sensasi berjalan rame-rame di pematang sawah, sambil membawa lampu colok, lalu sesekali da Puan, da Madi, Liman, Ipun, Buyuang Picak, da Eri dan entah siapa lagi, membacokkan parang ke lumpur, itu tak ada duanya. Belut terluka. Dikumpul di ember. Melangkah lagi. Pelan. Bocah kecil Buyuang Mipih akan berjalan paling belakang. Tak boleh bicara. Ssst. Ntar, belutnya lari...

Dalam satu jam sudah dapat belasan ekor. Balik ke surau. Cuci potong. Masak dengan garam. Buyuang Mipih tak tau, bagaimana anak yang lebih besar bisa punya beras, cabe serta garam.  

Dimasak di tungku batu halaman surau. Dekat papan cucian pematang kolam. Di rimbun daun gulam dan daun jambu. Aneh, ketika rame begini, ingatan tentang hantu atau harimau cindaku, tak ada sama sekali.

Hanya menyeruak aroma nasi panas dan belut goreng balado. Wuihhh!!!

Sunday, March 1, 2026

Poi Barolek 5

 POI BAROLEK

(5)


Pagi subuh, biasanya kami sudah berderet di pinggir pematang kolam. Anak kecil dengan bekas iler. Sama menarik karet celana, lalu buang air kecil. Seperti "pincuran kecil" membasahi rumput dan menyiram kepala ikan pantau-intan. Itu, ikan kecil, yang di kepalanya ada titik putih berkilau. Mak Imam, dan da Madi, serta uda lainnya, sering bilang, "takoncieng jan sambie togak, mancangkuang!" Tapi entah kenapa, pagi subuh begitu, kami instink saja, sambil berdiri...


Ritual berikutnya adalah "manjuk-aia". Ini istilah kami untuk berwuduk. Lalu shalat subuh di masjid. Uda-uda yang lebih besar, selalu mengambil daun rumput bonto, di pematang kolam besar depan masjid. Helaian daun itu digumpal-gumpal dengan jemari, lalu digosokkan ke gigi. Kami, kadang mengikuti prilaku mereka. Tapi lebih sering malas, dan mengacuhkannya.

Prilaku malas itu juga kronis untuk "manjuak-aia" shalat isya. Kami anak kecil, akan berdalih," uluak kami olun lopeh". Sesungguhnya, kami takut ke sumur masjid atau ke papan tempat mencuci pakaian pinggir kolam di malam hari. Bagaimana jika di bawah pohon jambu atau pohon gulam di lereng tebing, duduk harimau cindaku? Begitu kami menunduk mencuci muka, kuduk kami dikelupasnya dari belakang? Bukankah begitu cerita yang sering keluar dari mulut uda-uda yang lebih besar?

Kata Liman, cindaku tak menyerang dari depan. Di kening kita anak muslim ada tanda kalimah tauhid. Cindaku takut dengan tanda tauhid itu. Jadi dia menyungkah anak-anak dari belakang. Hiiiii....

Mending nahan kentut, tak batal uduk aja dah!

Saturday, February 28, 2026

Poi Barolek (4)

 POI BAROLEK (4)


Teman, tentu kita semua merasakan, indahnya berkumpul di surau sehabis mengaji. Guru Ngaji, masih keluarga Buyuang Mipih, mak Anwar Imam. Beliau dibantu asisten, anak-anak yg lebih tua. Seperta da Madi dkk. Mereka mengeja Quran, dibantu lidi yang berpindah dari huruf ke huruf di setiap baris. Di mulai dari alif ba ta, sampai alif lam mim. Ruang surau, berdengung sehabis maghrib sampai isya. Lampu petromax, bersinar terang. Dan jika sudah selesai, lampu berganti "damea" kecil yang cahayanya berkedip dihembus angin sawah.

Namun, bagi anak-anak, yang setelah shalat isya diminta tidur, lampu temaram itu sudah biasa. Bahkan sering jadi ajang obrolan pengantar tidur. Di "forum" itulah ceruta horor, muncul. Tentang hantu, tentang harimau, dan tentang orang maling. Buyuang Mipih, anak ingusan, mendengar dengan melongo. Takut. Apalagi jika cerita hantu dibalut dengan sosok hewan seperti harimau, atau baribeh. Hiii, merinding bulu kuduk. Maka kain sarung ditarik menutup kepala. Tikar pandan terasa dingin. Angin sawah meniup dari sela lantai kandang surau, yg berisi banyak ternak itik. Bau feses itik, kadang sangat tak enak. Tapi, tak ada pilihan lain. Berkelumun, sampai pagi subuh....

Poi Barolek (3)

 POI BAROLEK (3).


Tak berapa lama, ibu Buyuang Mipih membawanya pulang ke rumah. Mangkok mungkin sudah diisi dengan ajik, gelamai atau "silomak berbungkus hijau mengkilap" yang aromanya harum. Jangan-jangan, karena rasanya enak, maka orang kampung Buyuang menamainya Silomak. Lomak itu, enak. Gurih!


Maka tinggallah teman kecil bermata jelita. Rambut kepang dua, senyumnya indah. 


Di masa awal sekolahan begitu, kenangan, mudah hilang. Apalagi besoknya, ada kenangan yang lain lagi. Misalnya, main  ayunan di batang kelapa pinggir sawah, atau mandi berlama-lama di batang Sinama. Paling, jika Buyuang ingat, dia lukis gambar di tanah halaman. Kepala kecil dengan rambut dijalin dua.


Dan besoknya akan kembali hilang dari ingatan. Sebab Buyuang telah berjalan bersama temannya, menjelang maghrib ke surau di baruah masjid. Nasi untuk makan malam, dipegang di piring. Naasnya, nasi itu sering sudah habis disuap sepanjang jalan. Di penurunan ke masjid, tersisa genggaman terakhir. Lalu lunas! Habis!.


Malamnya mengaji ...

Wednesday, February 25, 2026

Body kit Epilachna

 "EPILACHNA BODY KIT"


Setelah setahun pertama kuliah, liburan, pulang kampung. Buyuang Mipih iseng jalan ke kebun sekitar rumah. Memandang tumbuhan, burung serta serangga. Dan, hei, itu di daun _Premna obtusifolia_ ada kumbang oranye seperti di ruang pak Idrus labor SNS. Buyuang Mipih kenal Epilachna saat mengumpul KRS bersama teman. Nun di ruang lab SNS sisi utara. Kumbang oranye berbintik hitam. Di dalam wadah bening. Ada daun-daun di sekitarnya. Menurut kakak angkatan sesama kost di Padangbesi, itu objek penelitian penasehat akademik Buyuang Mipih, _Epilachna sp_. 

Tetapi teman-teman, Epilachna ini beda dengan yg dipelihara  pak Id. Ini lebih cantik. Lebih mewah. Lebih aristokratis. Lihat, ada body kit sekeliling pinggiran sayap. Warnanya berkilauan. Memberi efek ground clearance kumbang menjadi kecil, hampir menyentuh muka daun. -Epilachna sp_ baru, pasti, ini! 


Buyuang Mipih buru-buru menemui PA nya di lab SNS setelah libur selesai. Mengetuk pintu dan mengucap salam, serta mengenalkan diri sebagai mhs bimbingan akademik. Dan dengan antusias menceritakan Epilachna baru, yg cantik aristokratis temuannya pada pak Idrus. "Di daun cincau pak, di kampung saya, di pelosok Payakumbuh," ujarnya. 

Pak Idrus memandang sejenak. Lalu tersenyum. "Mungkin_Aspidomorpha...." jawab beliau.

Aspidomorpha? Kan ini warna kuning? Ada bintik hitam?

"Kuning pak. Ada bintik hitam di punggungnya.." tambah Buyuang.

"Iya. Sefamili, beda genus" begitu kira-kira keterangan pak Idrus.

Buyuang tak jadi gembira. Urung jadi penemu Epilachna spesies baru. Ternyata, spesies berbeda. Lalu Buyuang  pamit malu.

Dan mencoba mencari buku Koksinelid. Betul! _ASPIDOMORPHA_.

Bukan "body kit Epilachna".

😁😁🀭

Monday, February 23, 2026

Poi Barolek. (2)

 POI BAROLEK


2


Jika saja ibunya mengizinkan, tentu Buyuang Mipih kecil ingin menambah nasi sesendok dua sendok lagi. Tapi ibu bilang,"olah, ...basuah tangan ang!"

Dan bayangan Buyuang tentang sepotong daging kalio, rubik renyah balado serta gulai "cimbodak" terhenti. Malu, jika merengek minta tambah nasi serta lauk. "Konak-an parabuang e reh Bu, Ncu, ..." terdengar sipangka pelayan menyuruh makan kue. Ajik, galamai, kue sopik, kuo loyang, kue sagun, agar merah putih, bolu ikan kecil dan lenhkap pisang buai tutuak serta pisang mas. Eh, pisang-manyih!

Ibu mengambilkan agar merah putih. Faham sangatlah, ibu dengan selera dia. Mungkin karena mato Buyuang memandang jua, ke kue lembut manis itu.

"Wak urak selo lai Ncu, ten lah banyak pulo nan mananti pek laman!" Terdengar suara seorang mak-mak. Lalu kami serempak turun. Meninggalkan orang yang makin ramai, dan hidangan, yang lezat itu.


Di halaman, ibu dicegat oleh mak-mak dari arah samping rumah. 

"Weh, bu Sidea, ancik pulang pulo, kami isi, mangkuak ibu dulu!"

Itu adat di kampung, saling bawa dan saling beri. Apalagi jika dusanak dekat, tentu akan membawa "kibang tunggak". Teman, tau kah engkau kibang tunggak? Tentu tidak, sebab sekarang, jangankan kibang tunggak, kibang biasa saja, susah ditemukan. Wadah tempat berbagai makanan dan barang, terbuat dari anyaman bambu. Bagian bibirnya membulat, tapi dasar bawahnya cendrung segi empat. 


He, anak kecil yang tadi ikut makan, rambut kepang dua, matanya "rancak" juga ikut menunggu mangkok bersama ibu-ibu lain. Dan sesama ibu-ibu itu saling bercerita. Buyuang Mipih tak tertarik dengan cerita orang-orang tua itu. Ia lebih senang menatap anak kecil itu, yang wajahnya berseri. Berseri dan seperti senyum..

Terpesona. 

Buyuang mendekat dan membantu menangkapkan belalang kecil yang hinggap di kepala rambut kepang dua. Sejak kemarin, mungkin di rumah ini dipasang lampu stromking banyak, mengundang serangga datang. Fototrop positif!

Satu diantaranya terbang dan hinggap di kepala anak ibu yang sesama makan tadi. Buyuang menjangkaukan tangan perlahan. Hop! Belalang hijau itu tertangkap. Senang. Lalu memberikannya ke anak, yang Buyuang tak tau, siapa namanya....

Thursday, April 3, 2025

Lunau Sinama

 Lunau Sinama


Tak hanya lumpur sawah, lumpur pinggiran batang Sinama, tak lepas dari objek mainan anak zaman dulu. Tekstur lumpur batang Sinama lebih halus. Mungkin karena bercampur hanyutan tanah liat. Menumpuk di pinggiran, bercampur pasir. Berbatas rumput kumpai dan daun bonto. Kadang ada bekas cangkang pensi, berwarna coklat dan putih. Inilah objek yang membuat Buyuang Mipih berlama-lama, mencangkuang, di terik udara batang Sinama. Dihibur suara arus air yang memecah sela bambu penghalang arus, untuk mengalir ke muka kincir.

Lumpur rada lengket itu, dijatuhkan pelan-pelan dari sela jemari. Menumpuk dan meninggi. Membangun forma mirip candi. Dengan puncak-puncak yang ditata penuh inspirasi. Dibutuhkan kesabaran. Apalagi jika disertai kompetisi. Candi lumpur siapa nan paling megah dan artistik...

Resikonya adalah, celana tak sadar, sudah lembab. Kaki serta tangan, penuh dengan noda lumpur, yang memutih jika kering. Tapi, kepuasannya, melebihi apapun..πŸŒπŸ‹‍🟩πŸ₯‘πŸ°πŸ‰


Saturday, March 29, 2025

Lagu Dagang Parantauan

 Tol Kebun Jeruk


Sudah dua kali Buyuang memutar lagu di atas. Tentang perasaian hidup dirantau. Kondisi ekonomi yang tak baik-baik saja, ditusuk panggilan lirik nan pedih. Seakan, vokalis parobaya itu, taubenar kondisi hati Buyuang. Tak hanya kondisi hati, tapi juga kondisi dompetnya. Duh!


Papa, pulang juo nak! Akhirnya ia mendesis. Menyempalkan pakaian habis cuci tak bersterika ke tas ransel. Mamasukkan pakaian dalam. Sebotol air teh manis ke botol air mineral. Beberapa permen. Dan beberapa takjil roti marie bulat yang disusun dua, lalu di selanya ada lapisan kacang ijo, digoreng. Itu cukup untuk sampai tengah malam di penyebrangan. Dan kawan, kini Buyuang sudah antri di pedestrian luar tol kebun jeruk. Menunggu bus apapun yang ke Sumatra. Tak peduli mereknya apa. Yang penting sesuai ongkos. Separo karcis resmi di loket. Tapi kawan, mana ada bus yang mau begitu, di magrib dua hari sebelum lebaran ini? Itu harapan sia-sia. Bukannya korting, malah naik dua kali lipat. Ya kan?


Pagar biru antrean bus tak berkurang sepinya. Banyak juga yang berfikiran seperti dia. Berharap ada tumpangan untuk rakyat melarat, di saat yang tak waktunya! Bengak, tapi apa salahnya mencoba?


Azan magrib sudah kumandang. Orang lalu lalang terlihat minum dan makan. Buyuang juga. Roti lapis kacang ijo! Manis. Didorong tegukan teh dari botol air mineral. Gluk gluk gluk!


Di terang neon jalanan, di silih bergantinya bus Sumatra, muncul bus biasa tak bermerek warna kehijauan. Ada tulisan Pariwisata di sisi karoserinya. Dan ada teriak kondektur di pintu,"Palembang, Jambi , Padang! Palembang , Jambi, Padang!"

Buyuang sigap melompat ke jalan. Mendekat. 

"Padang!" Ujarnya.

"Yo Da. Naiak. Bangku tempel dih?"

"Ndak ado bangku kosong?"

"Amuah uda di bangku cc dakek supir?"

"Jadih!"

Dan Buyuang hilang dibalik pintu bus yang mulai berlari kencang.

Nak, papa, bagaimanapun, pulang. Papa ingin mendekapmu...semiskin apapun papamu! Lalu air mata menggenang di temaramnya lampu dalam ruang depan supir...

Wednesday, March 26, 2025

Navis

 AA Navis


Kepiawaian Navis mengolah dilema psikologis tokoh cerpennya sudah diakui banyak orang. Agaknya bukan kepiawaian, tapi intuisi yang lahir dari dialektika mendalam, produk dari perbendaharaan membaca, sikap relijius dan realitas kultur peristiwa. Robohnya Surau Kami, kental dengan hal di atas. Boleh jadi pembaca zaman now tak mudah memahami, tapi masarakat tahun 70an, 80an, menyimpan pesan Navis dengan baik.


Selain RSK, ada cerpen lain yang menarik. Cerita tentang tokoh yang licin, survive zaman Orla, terpakai zaman komunis, hilang sejenak tahun 65, dan tiba - tiba muncul jadi tokoh pengusaha zaman orba. Dia licin. Licin dan pintar bermain kata. Hingga, bagai karakter mimikri, dia tak hilang ditelan zaman rezim. Hebat. Di merah dia merah. Di kuning dia kuning. Di hijau dia takzim. Gitu!


Cerpen lainnya lagi, Orang Baik Yang Malang. Bertolak belakang secara psikologis dengan tokoh licin di atas. Ini lurus tabung. Hingga akhirnya sakit. Dan taukah kita, apa obat yang disarankan dokter atas problematik psikosis nya? Duh, berat, tapi itulah pemicu sakitnya. Navis emang tiada duanya.

Sunday, March 23, 2025

Gombie Sungai Ronah

 Gombie Sungai Ronah


Usaha gambir udah biasa dilakoni penduduk Pangkalan. Jangan-jangan nama nagari Mangilang, berasal dari kegiatan olah daun gambir jadi ekstrak dan dikeringkan ini. 


Modernisasi usaha gambir, kini banyak dilakukan. Dengan dana 50 jutaan, penduduk bisa beli mesin hidrolik dan mengolah getah gambir berskala lebih besar. Di tungku pengampoan, pondok tengah ladang. Dari situ keluarlah gambir yang dikonsumsi pabrik obat kosmetik dan pewarna serta pendamping sugi sirih pinang.


Kawan,

Di Sungai Ronah, Pangkalan, bertahun-tahun terakhir, berdiri pabrik gambir besar lebih modern lagi. Kata ponakan saya, dimiliki oleh orang India. Dalam area pabrik yang dijaga polisi itu, bekerja orang-orang India dan banyak penduduk tempatan. Bahkan ada pojok sesembahan patung, lidi dan abu, untuk orang India itu  Setengah ton daun bisa diproses sekaligus. Ditreatment, dipindah melalui ban berjalan, masuk ke kancah penggilingan dan keluar ekstrak kental merah coklat. Kucuran ekstraksi pertama dipisahkan, dan diberi label kualitas primer. Sisa cincangan mesin diulang sekali lagi dan sekali lagi. Ekstrak kedua dan ketiga dicampur untuk gambir kualitas sedang.


Teman,

Jika gambir tradisional kering dalam beberapa hari, maka gambir pabrik India kental seketika karena ditambahi cairan tertentu. Gambir tradisional beku beberapa hari, gambir pabrik India beku dengan pendingin dalam sekejap.

Begitulah, produk kualutas tinggi langsung dikirim ke India. Kebutuhan daun sebagai bahan baku, dipasok dari Pangkalan, bahkan dari Sungai Sasak Riau, dan dari Sijunjung.

Dari sisi Penanaman modal, ini mungkin baik buat kabupaten, namun perlu juga direnungkan, kapan anak negri punya teknologi sama dan jaringan ekspor yang sesuai.


Ramadhan 1446

Buyuang Mipih.