POI BAROLEK
(7)
Tak taulah Buyuang Mipih, sudah jam berapa larut malam. Uda-uda yang remaja itu masih ngobrol. Buyuang mana biasa tidur larut malam. Sehabis makan nasi hangat belut balado, matanya mulai redup. Maka dia menepi, merebahkan badan dekat dinding kamar belakang surau yang dipenuhi karung sumpik berisi padi. Sesekali bunyi itik mendesis dari bawah lantai. Di teras luar, sayup terdengar uda-uda maota. Topiknya bermacam-macam. Kadang diselingi tawa terbahak. Terdengar pujian, bahwa Ita itu cantik. Lalu yang lain menyela, Iwit juga coga. Antara terjaga dan tidur, masih sayup topik pembicaraan tentang cita-cita ingin seperti bang Dimea, punya toko, punya mobil dan istrinya bagai rembulan. Lalu diam. Entah, memang diam benaran, atau Buyuang Mipih larut tidur lelap berbalut sarung pudar......
Teman,
Kata orang baik dan buruk itu dipergantikan. Tawa dan tangis juga begitu. Mujur tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak. Besoknya, Buyuang Mipih demam panas. Dia merengek ke ibunya. Selera patah. Bersin-bersin. Tiduran. Dan kadang terasa dingin.
Mulailah ibunya menyiasati, habis main apa, makan apa, dimana. "Bagodang. Pek longgea...." jawab Buyuang. Ibunya mengatupkan bibir. Anak tiga orang dia asuh tiap hari. Bapak, nun di Padang, baru saja pindah dari Sangir, Solok Selatan. Bapak pulang sekali tiga bulan. Maka sakit-senang dikunyah ibu, sendiri. Untuk berkonsultasi, ada Nenek dan Kakek. Nenek itu, petani penjual tiap Kamis. Kakek, mdmotong rambut orang sekampung, tiap Kamis , nun di pajak 50 m timur Simpang Congkong.
"Kok tatogun? Siramlah jo aia sitawea sidingin. Mintak ubek ka Tanjuang Jati!" Saran Nenek.
"Salemo domam reh, ka toko ubek ajolah. Pek pandakian lopeh simpang Talago ka Tanjuang Jati,..." tukas Kakek.
Ibu mrmetik sitawea sidingin sikumpai sikorau di baruah, dekat mata air pincuran mandi. Dia rendam di mangkok dan Buyuang diperciki airnya. " Bismillah,.." Siiiir....dingin mengejutkan. Tapi ia tahankan saja. Ia tak mau ibunya sedih.
Besoknya tak sembuh juga. Maka dibonceng Buyuang Mipih kecil ke toko obat Batas Talago Tanjung Jati. Di rumah toko yang terasnya dari beton, Buyuang terduduk. Ibu memanggil "mantri obat". Dari jendela yang terbuka, muncul seorang lelaki paro baya. Pembawaannya dingin. Keningnya rada botak. Memakai kaus oblong putih. Mungkin mereknya swan, yang ada gambar angsa merah di kuduknya.
Lalu ibu menceritakan keadaan Buyuang. Lelaki itu memandang dengan seksama.
"Co apak osok konyiang ang!" Katanya. Lalu tangannya mengusap kening. Buyuang , entah kenapa, dipegang begitu, udah serasa nyaman, sembuh.
Lalu lelaki itu masuk ke dalam. Ibu menunggu. Lama. Lebih 10 menit. Setelah keluar, ia membawa pil dalam kantong plastik. Tiga macam. Iko INH, iko Trisulfa. Minum pagi jo sonjo..." pesannya.
"Iko bodrexin. Sakali sapagi ajo.!" Tambah beliau.
"Bara piti eh ko Tuan?" Tanya Ibu.
"Ompek puluah rupiah...."jawab bapak itu. Dan kami kembali pulang. Digonceng ibu. Sepeda ontel merek Valuas. Berderit-derit gesekan gowesnya menyentuh tutup rantai, melintas bebatuan menuju Simpang Congkong.
"Nan kadatang, olah reh bagodang juo! Badan ang indak sakuek urang do. Lotiak-lotiak. Kalau lah sakik, marano sorang, kojo kacewo, piti abih!"
Buyuang menekur di boncengan. Dalam hidup dia hanya Ibu yang sepenuh hati menyayangi.....
No comments:
Post a Comment