Tuesday, March 3, 2026

Poi Barolek 7

 POI BAROLEK

(7)


Tak taulah Buyuang Mipih, sudah jam berapa larut malam. Uda-uda yang remaja itu masih ngobrol. Buyuang mana biasa tidur larut malam. Sehabis makan nasi hangat belut balado, matanya mulai redup. Maka dia menepi, merebahkan badan dekat dinding kamar belakang surau yang dipenuhi karung sumpik berisi padi. Sesekali bunyi itik mendesis dari bawah lantai. Di teras luar, sayup terdengar uda-uda maota. Topiknya bermacam-macam. Kadang diselingi tawa terbahak. Terdengar pujian, bahwa Ita itu cantik. Lalu yang lain menyela, Iwit juga coga. Antara terjaga dan tidur, masih sayup topik pembicaraan tentang cita-cita ingin seperti bang Dimea, punya toko, punya mobil dan istrinya bagai rembulan. Lalu diam. Entah, memang diam benaran, atau Buyuang Mipih larut tidur lelap berbalut sarung pudar......


Teman,

Kata orang baik dan buruk itu dipergantikan. Tawa dan tangis juga begitu. Mujur tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak. Besoknya, Buyuang Mipih demam panas. Dia merengek ke ibunya. Selera patah. Bersin-bersin. Tiduran. Dan kadang terasa dingin.

Mulailah ibunya menyiasati, habis main apa, makan apa, dimana. "Bagodang. Pek longgea...." jawab Buyuang. Ibunya mengatupkan bibir. Anak tiga orang dia asuh tiap hari. Bapak, nun di Padang, baru saja pindah dari Sangir, Solok Selatan. Bapak pulang sekali tiga bulan. Maka sakit-senang dikunyah ibu, sendiri. Untuk berkonsultasi, ada Nenek dan Kakek. Nenek itu, petani penjual tiap Kamis. Kakek, mdmotong rambut orang sekampung, tiap Kamis , nun di pajak 50 m timur Simpang Congkong.

"Kok tatogun? Siramlah jo aia sitawea sidingin. Mintak ubek ka Tanjuang Jati!" Saran Nenek.

"Salemo domam reh, ka toko ubek ajolah. Pek pandakian lopeh simpang Talago ka Tanjuang Jati,..." tukas Kakek.

Ibu mrmetik sitawea sidingin sikumpai sikorau di baruah, dekat mata air pincuran mandi. Dia rendam di mangkok dan Buyuang diperciki airnya. " Bismillah,.." Siiiir....dingin mengejutkan. Tapi ia tahankan saja. Ia tak mau ibunya sedih.

Besoknya tak sembuh juga. Maka dibonceng Buyuang Mipih kecil ke toko obat Batas Talago Tanjung Jati. Di rumah toko yang terasnya dari beton, Buyuang terduduk. Ibu memanggil "mantri obat". Dari jendela yang terbuka, muncul seorang lelaki paro baya.  Pembawaannya dingin. Keningnya rada botak. Memakai kaus oblong putih. Mungkin mereknya swan, yang ada gambar angsa merah di kuduknya.

Lalu ibu menceritakan keadaan Buyuang. Lelaki itu memandang dengan seksama. 

"Co apak osok konyiang ang!" Katanya. Lalu tangannya mengusap kening. Buyuang , entah kenapa, dipegang begitu, udah serasa nyaman, sembuh.

Lalu lelaki itu masuk ke dalam. Ibu menunggu. Lama. Lebih 10 menit. Setelah keluar, ia membawa pil dalam kantong plastik. Tiga macam. Iko INH, iko Trisulfa. Minum pagi jo sonjo..." pesannya.

"Iko bodrexin. Sakali sapagi ajo.!" Tambah beliau. 

"Bara piti eh ko Tuan?" Tanya Ibu.

"Ompek puluah rupiah...."jawab bapak itu. Dan kami kembali pulang. Digonceng ibu. Sepeda ontel merek Valuas. Berderit-derit gesekan gowesnya menyentuh tutup rantai, melintas bebatuan menuju Simpang Congkong.

"Nan kadatang, olah reh bagodang juo! Badan ang indak sakuek urang do. Lotiak-lotiak. Kalau lah sakik, marano sorang, kojo kacewo, piti abih!"

Buyuang menekur di boncengan. Dalam hidup dia hanya Ibu yang sepenuh hati menyayangi.....

Monday, March 2, 2026

Poi Barolek 6

 POI BAROLEK 


6


Setelah shalat, berlarian mendaki tanjakan tebing, pulang. Piring kosong di tangan. Sarung, yang warnanya memudar, membelit leher. Tebing nanjak belok kiri, belok kanan, melewati batang Kalumpang besar, yang akar banirnya menonjol di lubang pasir tebing, lalu sampai di jalan mendatar. Terengah-engah berlari, ganti baju yang bersih, ambil batu tulis, sarapan dan jalan ke sekolah.


Teman,

Belum ada seragam sekolah tahun itu. Juga belum disuruh pakai sepatu. Seragam putih dongker baru dimulai sekitar 1974. Dongker itu, istilah ibuku untuk ungu tua. Deep purple!

Warna itu kemudian berubah secara nasional jadi merah putih. Begitu juga SMP, awalnya abu-abu putih, berubah jadi dongker putih, dan abu-abu jadi milik SMA.

Sebagian teman memakai sandal partakus, lainnya sulap lily, sisanya "tarompah jopang". Belajar klas 1 dan 2 di gedung barat ( mah sikola mudiak) klas 3 dan 4 di gedung lama ( mah sikola ilie) dan klas 5 serta 6 kembali ke gedung barat.

Pulang sekolah, simpan batu tulis, makan dan main. Rumah Godang Pitopang, Pajak Mak Imam Padang, Masojik , sawah dan Sinama, adalah arena bermain kami, anak kampung. Sore kembali menyungkup, Buyuang Mipih melangkah ke surau, dengan sepiring nasi, lauk sapek siam, samba karambia, menuju surau. Di halaman surau, nasi sudah tandeh. Lunas!

Jika kami anak-anak mendapat kabar dari Uluk, bahwa mak Imam tak ke surau malam ini, maka anak-anak yang lebih besar, lansung membuat rencana, begadang, sehabis mencari belut. Uluk, adalah anak mak Anwar Imam. Umurnya, beberapa tahun lebih tua dari Buyuang.


Sensasi berjalan rame-rame di pematang sawah, sambil membawa lampu colok, lalu sesekali da Puan, da Madi, Liman, Ipun, Buyuang Picak, da Eri dan entah siapa lagi, membacokkan parang ke lumpur, itu tak ada duanya. Belut terluka. Dikumpul di ember. Melangkah lagi. Pelan. Bocah kecil Buyuang Mipih akan berjalan paling belakang. Tak boleh bicara. Ssst. Ntar, belutnya lari...

Dalam satu jam sudah dapat belasan ekor. Balik ke surau. Cuci potong. Masak dengan garam. Buyuang Mipih tak tau, bagaimana anak yang lebih besar bisa punya beras, cabe serta garam.  

Dimasak di tungku batu halaman surau. Dekat papan cucian pematang kolam. Di rimbun daun gulam dan daun jambu. Aneh, ketika rame begini, ingatan tentang hantu atau harimau cindaku, tak ada sama sekali.

Hanya menyeruak aroma nasi panas dan belut goreng balado. Wuihhh!!!

Sunday, March 1, 2026

Poi Barolek 5

 POI BAROLEK

(5)


Pagi subuh, biasanya kami sudah berderet di pinggir pematang kolam. Anak kecil dengan bekas iler. Sama menarik karet celana, lalu buang air kecil. Seperti "pincuran kecil" membasahi rumput dan menyiram kepala ikan pantau-intan. Itu, ikan kecil, yang di kepalanya ada titik putih berkilau. Mak Imam, dan da Madi, serta uda lainnya, sering bilang, "takoncieng jan sambie togak, mancangkuang!" Tapi entah kenapa, pagi subuh begitu, kami instink saja, sambil berdiri...


Ritual berikutnya adalah "manjuk-aia". Ini istilah kami untuk berwuduk. Lalu shalat subuh di masjid. Uda-uda yang lebih besar, selalu mengambil daun rumput bonto, di pematang kolam besar depan masjid. Helaian daun itu digumpal-gumpal dengan jemari, lalu digosokkan ke gigi. Kami, kadang mengikuti prilaku mereka. Tapi lebih sering malas, dan mengacuhkannya.

Prilaku malas itu juga kronis untuk "manjuak-aia" shalat isya. Kami anak kecil, akan berdalih," uluak kami olun lopeh". Sesungguhnya, kami takut ke sumur masjid atau ke papan tempat mencuci pakaian pinggir kolam di malam hari. Bagaimana jika di bawah pohon jambu atau pohon gulam di lereng tebing, duduk harimau cindaku? Begitu kami menunduk mencuci muka, kuduk kami dikelupasnya dari belakang? Bukankah begitu cerita yang sering keluar dari mulut uda-uda yang lebih besar?

Kata Liman, cindaku tak menyerang dari depan. Di kening kita anak muslim ada tanda kalimah tauhid. Cindaku takut dengan tanda tauhid itu. Jadi dia menyungkah anak-anak dari belakang. Hiiiii....

Mending nahan kentut, tak batal uduk aja dah!

Saturday, February 28, 2026

Poi Barolek (4)

 POI BAROLEK (4)


Teman, tentu kita semua merasakan, indahnya berkumpul di surau sehabis mengaji. Guru Ngaji, masih keluarga Buyuang Mipih, mak Anwar Imam. Beliau dibantu asisten, anak-anak yg lebih tua. Seperta da Madi dkk. Mereka mengeja Quran, dibantu lidi yang berpindah dari huruf ke huruf di setiap baris. Di mulai dari alif ba ta, sampai alif lam mim. Ruang surau, berdengung sehabis maghrib sampai isya. Lampu petromax, bersinar terang. Dan jika sudah selesai, lampu berganti "damea" kecil yang cahayanya berkedip dihembus angin sawah.

Namun, bagi anak-anak, yang setelah shalat isya diminta tidur, lampu temaram itu sudah biasa. Bahkan sering jadi ajang obrolan pengantar tidur. Di "forum" itulah ceruta horor, muncul. Tentang hantu, tentang harimau, dan tentang orang maling. Buyuang Mipih, anak ingusan, mendengar dengan melongo. Takut. Apalagi jika cerita hantu dibalut dengan sosok hewan seperti harimau, atau baribeh. Hiii, merinding bulu kuduk. Maka kain sarung ditarik menutup kepala. Tikar pandan terasa dingin. Angin sawah meniup dari sela lantai kandang surau, yg berisi banyak ternak itik. Bau feses itik, kadang sangat tak enak. Tapi, tak ada pilihan lain. Berkelumun, sampai pagi subuh....

Poi Barolek (3)

 POI BAROLEK (3).


Tak berapa lama, ibu Buyuang Mipih membawanya pulang ke rumah. Mangkok mungkin sudah diisi dengan ajik, gelamai atau "silomak berbungkus hijau mengkilap" yang aromanya harum. Jangan-jangan, karena rasanya enak, maka orang kampung Buyuang menamainya Silomak. Lomak itu, enak. Gurih!


Maka tinggallah teman kecil bermata jelita. Rambut kepang dua, senyumnya indah. 


Di masa awal sekolahan begitu, kenangan, mudah hilang. Apalagi besoknya, ada kenangan yang lain lagi. Misalnya, main  ayunan di batang kelapa pinggir sawah, atau mandi berlama-lama di batang Sinama. Paling, jika Buyuang ingat, dia lukis gambar di tanah halaman. Kepala kecil dengan rambut dijalin dua.


Dan besoknya akan kembali hilang dari ingatan. Sebab Buyuang telah berjalan bersama temannya, menjelang maghrib ke surau di baruah masjid. Nasi untuk makan malam, dipegang di piring. Naasnya, nasi itu sering sudah habis disuap sepanjang jalan. Di penurunan ke masjid, tersisa genggaman terakhir. Lalu lunas! Habis!.


Malamnya mengaji ...

Wednesday, February 25, 2026

Body kit Epilachna

 "EPILACHNA BODY KIT"


Setelah setahun pertama kuliah, liburan, pulang kampung. Buyuang Mipih iseng jalan ke kebun sekitar rumah. Memandang tumbuhan, burung serta serangga. Dan, hei, itu di daun _Premna obtusifolia_ ada kumbang oranye seperti di ruang pak Idrus labor SNS. Buyuang Mipih kenal Epilachna saat mengumpul KRS bersama teman. Nun di ruang lab SNS sisi utara. Kumbang oranye berbintik hitam. Di dalam wadah bening. Ada daun-daun di sekitarnya. Menurut kakak angkatan sesama kost di Padangbesi, itu objek penelitian penasehat akademik Buyuang Mipih, _Epilachna sp_. 

Tetapi teman-teman, Epilachna ini beda dengan yg dipelihara  pak Id. Ini lebih cantik. Lebih mewah. Lebih aristokratis. Lihat, ada body kit sekeliling pinggiran sayap. Warnanya berkilauan. Memberi efek ground clearance kumbang menjadi kecil, hampir menyentuh muka daun. -Epilachna sp_ baru, pasti, ini! 


Buyuang Mipih buru-buru menemui PA nya di lab SNS setelah libur selesai. Mengetuk pintu dan mengucap salam, serta mengenalkan diri sebagai mhs bimbingan akademik. Dan dengan antusias menceritakan Epilachna baru, yg cantik aristokratis temuannya pada pak Idrus. "Di daun cincau pak, di kampung saya, di pelosok Payakumbuh," ujarnya. 

Pak Idrus memandang sejenak. Lalu tersenyum. "Mungkin_Aspidomorpha...." jawab beliau.

Aspidomorpha? Kan ini warna kuning? Ada bintik hitam?

"Kuning pak. Ada bintik hitam di punggungnya.." tambah Buyuang.

"Iya. Sefamili, beda genus" begitu kira-kira keterangan pak Idrus.

Buyuang tak jadi gembira. Urung jadi penemu Epilachna spesies baru. Ternyata, spesies berbeda. Lalu Buyuang  pamit malu.

Dan mencoba mencari buku Koksinelid. Betul! _ASPIDOMORPHA_.

Bukan "body kit Epilachna".

😁😁🤭