Wednesday, February 25, 2026

Body kit Epilachna

 "EPILACHNA BODY KIT"


Setelah setahun pertama kuliah, liburan, pulang kampung. Buyuang Mipih iseng jalan ke kebun sekitar rumah. Memandang tumbuhan, burung serta serangga. Dan, hei, itu di daun _Premna obtusifolia_ ada kumbang oranye seperti di ruang pak Idrus labor SNS. Buyuang Mipih kenal Epilachna saat mengumpul KRS bersama teman. Nun di ruang lab SNS sisi utara. Kumbang oranye berbintik hitam. Di dalam wadah bening. Ada daun-daun di sekitarnya. Menurut kakak angkatan sesama kost di Padangbesi, itu objek penelitian penasehat akademik Buyuang Mipih, _Epilachna sp_. 

Tetapi teman-teman, Epilachna ini beda dengan yg dipelihara  pak Id. Ini lebih cantik. Lebih mewah. Lebih aristokratis. Lihat, ada body kit sekeliling pinggiran sayap. Warnanya berkilauan. Memberi efek ground clearance kumbang menjadi kecil, hampir menyentuh muka daun. -Epilachna sp_ baru, pasti, ini! 


Buyuang Mipih buru-buru menemui PA nya di lab SNS setelah libur selesai. Mengetuk pintu dan mengucap salam, serta mengenalkan diri sebagai mhs bimbingan akademik. Dan dengan antusias menceritakan Epilachna baru, yg cantik aristokratis temuannya pada pak Idrus. "Di daun cincau pak, di kampung saya, di pelosok Payakumbuh," ujarnya. 

Pak Idrus memandang sejenak. Lalu tersenyum. "Mungkin_Aspidomorpha...." jawab beliau.

Aspidomorpha? Kan ini warna kuning? Ada bintik hitam?

"Kuning pak. Ada bintik hitam di punggungnya.." tambah Buyuang.

"Iya. Sefamili, beda genus" begitu kira-kira keterangan pak Idrus.

Buyuang tak jadi gembira. Urung jadi penemu Epilachna spesies baru. Ternyata, spesies berbeda. Lalu Buyuang  pamit malu.

Dan mencoba mencari buku Koksinelid. Betul! _ASPIDOMORPHA_.

Bukan "body kit Epilachna".

😁😁🤭

Monday, February 23, 2026

Poi Barolek. (2)

 POI BAROLEK


2


Jika saja ibunya mengizinkan, tentu Buyuang Mipih kecil ingin menambah nasi sesendok dua sendok lagi. Tapi ibu bilang,"olah, ...basuah tangan ang!"

Dan bayangan Buyuang tentang sepotong daging kalio, rubik renyah balado serta gulai "cimbodak" terhenti. Malu, jika merengek minta tambah nasi serta lauk. "Konak-an parabuang e reh Bu, Ncu, ..." terdengar sipangka pelayan menyuruh makan kue. Ajik, galamai, kue sopik, kuo loyang, kue sagun, agar merah putih, bolu ikan kecil dan lenhkap pisang buai tutuak serta pisang mas. Eh, pisang-manyih!

Ibu mengambilkan agar merah putih. Faham sangatlah, ibu dengan selera dia. Mungkin karena mato Buyuang memandang jua, ke kue lembut manis itu.

"Wak urak selo lai Ncu, ten lah banyak pulo nan mananti pek laman!" Terdengar suara seorang mak-mak. Lalu kami serempak turun. Meninggalkan orang yang makin ramai, dan hidangan, yang lezat itu.


Di halaman, ibu dicegat oleh mak-mak dari arah samping rumah. 

"Weh, bu Sidea, ancik pulang pulo, kami isi, mangkuak ibu dulu!"

Itu adat di kampung, saling bawa dan saling beri. Apalagi jika dusanak dekat, tentu akan membawa "kibang tunggak". Teman, tau kah engkau kibang tunggak? Tentu tidak, sebab sekarang, jangankan kibang tunggak, kibang biasa saja, susah ditemukan. Wadah tempat berbagai makanan dan barang, terbuat dari anyaman bambu. Bagian bibirnya membulat, tapi dasar bawahnya cendrung segi empat. 


He, anak kecil yang tadi ikut makan, rambut kepang dua, matanya "rancak" juga ikut menunggu mangkok bersama ibu-ibu lain. Dan sesama ibu-ibu itu saling bercerita. Buyuang Mipih tak tertarik dengan cerita orang-orang tua itu. Ia lebih senang menatap anak kecil itu, yang wajahnya berseri. Berseri dan seperti senyum..

Terpesona. 

Buyuang mendekat dan membantu menangkapkan belalang kecil yang hinggap di kepala rambut kepang dua. Sejak kemarin, mungkin di rumah ini dipasang lampu stromking banyak, mengundang serangga datang. Fototrop positif!

Satu diantaranya terbang dan hinggap di kepala anak ibu yang sesama makan tadi. Buyuang menjangkaukan tangan perlahan. Hop! Belalang hijau itu tertangkap. Senang. Lalu memberikannya ke anak, yang Buyuang tak tau, siapa namanya....

Thursday, April 3, 2025

Lunau Sinama

 Lunau Sinama


Tak hanya lumpur sawah, lumpur pinggiran batang Sinama, tak lepas dari objek mainan anak zaman dulu. Tekstur lumpur batang Sinama lebih halus. Mungkin karena bercampur hanyutan tanah liat. Menumpuk di pinggiran, bercampur pasir. Berbatas rumput kumpai dan daun bonto. Kadang ada bekas cangkang pensi, berwarna coklat dan putih. Inilah objek yang membuat Buyuang Mipih berlama-lama, mencangkuang, di terik udara batang Sinama. Dihibur suara arus air yang memecah sela bambu penghalang arus, untuk mengalir ke muka kincir.

Lumpur rada lengket itu, dijatuhkan pelan-pelan dari sela jemari. Menumpuk dan meninggi. Membangun forma mirip candi. Dengan puncak-puncak yang ditata penuh inspirasi. Dibutuhkan kesabaran. Apalagi jika disertai kompetisi. Candi lumpur siapa nan paling megah dan artistik...

Resikonya adalah, celana tak sadar, sudah lembab. Kaki serta tangan, penuh dengan noda lumpur, yang memutih jika kering. Tapi, kepuasannya, melebihi apapun..🍌🍋‍🟩🥑🍰🍉


Saturday, March 29, 2025

Lagu Dagang Parantauan

 Tol Kebun Jeruk


Sudah dua kali Buyuang memutar lagu di atas. Tentang perasaian hidup dirantau. Kondisi ekonomi yang tak baik-baik saja, ditusuk panggilan lirik nan pedih. Seakan, vokalis parobaya itu, taubenar kondisi hati Buyuang. Tak hanya kondisi hati, tapi juga kondisi dompetnya. Duh!


Papa, pulang juo nak! Akhirnya ia mendesis. Menyempalkan pakaian habis cuci tak bersterika ke tas ransel. Mamasukkan pakaian dalam. Sebotol air teh manis ke botol air mineral. Beberapa permen. Dan beberapa takjil roti marie bulat yang disusun dua, lalu di selanya ada lapisan kacang ijo, digoreng. Itu cukup untuk sampai tengah malam di penyebrangan. Dan kawan, kini Buyuang sudah antri di pedestrian luar tol kebun jeruk. Menunggu bus apapun yang ke Sumatra. Tak peduli mereknya apa. Yang penting sesuai ongkos. Separo karcis resmi di loket. Tapi kawan, mana ada bus yang mau begitu, di magrib dua hari sebelum lebaran ini? Itu harapan sia-sia. Bukannya korting, malah naik dua kali lipat. Ya kan?


Pagar biru antrean bus tak berkurang sepinya. Banyak juga yang berfikiran seperti dia. Berharap ada tumpangan untuk rakyat melarat, di saat yang tak waktunya! Bengak, tapi apa salahnya mencoba?


Azan magrib sudah kumandang. Orang lalu lalang terlihat minum dan makan. Buyuang juga. Roti lapis kacang ijo! Manis. Didorong tegukan teh dari botol air mineral. Gluk gluk gluk!


Di terang neon jalanan, di silih bergantinya bus Sumatra, muncul bus biasa tak bermerek warna kehijauan. Ada tulisan Pariwisata di sisi karoserinya. Dan ada teriak kondektur di pintu,"Palembang, Jambi , Padang! Palembang , Jambi, Padang!"

Buyuang sigap melompat ke jalan. Mendekat. 

"Padang!" Ujarnya.

"Yo Da. Naiak. Bangku tempel dih?"

"Ndak ado bangku kosong?"

"Amuah uda di bangku cc dakek supir?"

"Jadih!"

Dan Buyuang hilang dibalik pintu bus yang mulai berlari kencang.

Nak, papa, bagaimanapun, pulang. Papa ingin mendekapmu...semiskin apapun papamu! Lalu air mata menggenang di temaramnya lampu dalam ruang depan supir...

Wednesday, March 26, 2025

Navis

 AA Navis


Kepiawaian Navis mengolah dilema psikologis tokoh cerpennya sudah diakui banyak orang. Agaknya bukan kepiawaian, tapi intuisi yang lahir dari dialektika mendalam, produk dari perbendaharaan membaca, sikap relijius dan realitas kultur peristiwa. Robohnya Surau Kami, kental dengan hal di atas. Boleh jadi pembaca zaman now tak mudah memahami, tapi masarakat tahun 70an, 80an, menyimpan pesan Navis dengan baik.


Selain RSK, ada cerpen lain yang menarik. Cerita tentang tokoh yang licin, survive zaman Orla, terpakai zaman komunis, hilang sejenak tahun 65, dan tiba - tiba muncul jadi tokoh pengusaha zaman orba. Dia licin. Licin dan pintar bermain kata. Hingga, bagai karakter mimikri, dia tak hilang ditelan zaman rezim. Hebat. Di merah dia merah. Di kuning dia kuning. Di hijau dia takzim. Gitu!


Cerpen lainnya lagi, Orang Baik Yang Malang. Bertolak belakang secara psikologis dengan tokoh licin di atas. Ini lurus tabung. Hingga akhirnya sakit. Dan taukah kita, apa obat yang disarankan dokter atas problematik psikosis nya? Duh, berat, tapi itulah pemicu sakitnya. Navis emang tiada duanya.

Sunday, March 23, 2025

Gombie Sungai Ronah

 Gombie Sungai Ronah


Usaha gambir udah biasa dilakoni penduduk Pangkalan. Jangan-jangan nama nagari Mangilang, berasal dari kegiatan olah daun gambir jadi ekstrak dan dikeringkan ini. 


Modernisasi usaha gambir, kini banyak dilakukan. Dengan dana 50 jutaan, penduduk bisa beli mesin hidrolik dan mengolah getah gambir berskala lebih besar. Di tungku pengampoan, pondok tengah ladang. Dari situ keluarlah gambir yang dikonsumsi pabrik obat kosmetik dan pewarna serta pendamping sugi sirih pinang.


Kawan,

Di Sungai Ronah, Pangkalan, bertahun-tahun terakhir, berdiri pabrik gambir besar lebih modern lagi. Kata ponakan saya, dimiliki oleh orang India. Dalam area pabrik yang dijaga polisi itu, bekerja orang-orang India dan banyak penduduk tempatan. Bahkan ada pojok sesembahan patung, lidi dan abu, untuk orang India itu  Setengah ton daun bisa diproses sekaligus. Ditreatment, dipindah melalui ban berjalan, masuk ke kancah penggilingan dan keluar ekstrak kental merah coklat. Kucuran ekstraksi pertama dipisahkan, dan diberi label kualitas primer. Sisa cincangan mesin diulang sekali lagi dan sekali lagi. Ekstrak kedua dan ketiga dicampur untuk gambir kualitas sedang.


Teman,

Jika gambir tradisional kering dalam beberapa hari, maka gambir pabrik India kental seketika karena ditambahi cairan tertentu. Gambir tradisional beku beberapa hari, gambir pabrik India beku dengan pendingin dalam sekejap.

Begitulah, produk kualutas tinggi langsung dikirim ke India. Kebutuhan daun sebagai bahan baku, dipasok dari Pangkalan, bahkan dari Sungai Sasak Riau, dan dari Sijunjung.

Dari sisi Penanaman modal, ini mungkin baik buat kabupaten, namun perlu juga direnungkan, kapan anak negri punya teknologi sama dan jaringan ekspor yang sesuai.


Ramadhan 1446

Buyuang Mipih.