POI BAROLEK
15
Sanak,.
Ibarat ayam jago, laga itu hanya "sa galobang" saja. Tak sampai bakuhantam sepak terjang dan peluk hempas. Sebab seorang uda , emosi juga melihat Abuca," Malawan pulo ang ieh, lah joleh salah. Den tunaman ang ka dalam sinama keh!!" Melihat mata yang membelalak, dan badan lebih besar, Abuca kalah mental. Mukanya pucat. Sudut bibirnya, tiba-tiba bergerak - gerak ke bawah. Mewek! Lalu sambil mengoleskan punggung tangan ke mata, ia berpaling. Menjinjing sandal dan pergi setengah berlari. Di pematang dia masih "madok baliak" dan menceracau. Entah apa yg disebutnya. Mungkin, " tengok dek ang, lalu muko umah den!" Kamipun balik pulang ke rumah. Sinama itu indah. Tapi Sinama juga bisa mangambil nyawa,....
Teman, belajar di klas 5 , terasa enak. Pertama, Buyuang dibolehkan ibu membawa sepeda. Ontel merek valuas, coklat kemerahan. Dengan ontel ini, Buyuang bisa sekalian mrenolong guru kelas, bu Baya, pulang ke Ampang Godang, setelah jam pelajaran berakhir. Bu Baya paginya diantar. Pulangnya, ngajak Buyuang ke Ampang Godang, lalu Buyuang kembali sendirian ke Kotokociak. Dibonceng bu Guru sepulang sekolah itu, membanggakan. Apalagi, Buyuang juara 1 di raport. Juara 1 ini dimungkinkan, sebab murid terpintar di klas kami, Ardi Jamal, pindah ke Tanjung Jati. SD Tanjung Jati waktu itu berpredikat unggul. Itulah jalan, yang membuat Buyuang merasakan juara klas.
Klas 5 juga ditandai dengan nonton El Soraya ke SD Padang Jopang. Pun juga nonton sandiwara pentas drama Melayu Deli di SD Tanjung Jati. Klas 5 adalah kesempatan terakhir untuk menikmati keleluasaan belajar. Sebab klas 6, belajar mulai fokus bersaing nilai, untuk ke SMP. Jika rendah nilai, takkan diterima di SMP n Dangung-Dangung yg tersohor seAsia Tenggara..... Maka bu Ulih, meminta siswa kursus tambahan, ke rumahnya di Ampang Godang. Naik sepeda. Bawa bekal. Besok pagi Minggu, kembali "menggantiah keta" ke Congkong. Untungnya, anak bu Ulih, Mariyeti, sekelas dengan Buyuang. Jadi kamii semua dianggap anak oleh bu Ulih. Terimakasih bu Ulih. Terimakasih bu Baya, buEmi, bu Tinar, dan bu Eli.
Jika Buyuang berdoa, Allahummaghfirlana, zunubana, wa li aba ina, wa li ummahatina, wa li jaddatina, wa li ajdatina, wa li akrabina, wa li akrabatina, wa li masa ikhina, wa li man hadana ila khair.... maka semua bu guru dan pak guru, tercakup dalam frase ujung, wa li man hadana ila khair. Orang yang membimbing di jalan kebaikan.
Aamiin.
Tamat.
Banyak mooh di nan khilaf, bakeh Tuhan ampun dipintak.