Friday, March 6, 2026

Poi Barolek 12

 POI BAROLEK


12


Alternatif lain jajan adalah seberang pajak Tuk Nuran. Kios buku komik. Ya, dulu toko ini pernah jadi sewaan buku komik. Berbagai macam judul. Disusun di rak dinding dan dalam etalase. Anak-anak membaca buku komik, seakan menonton film. Imajinasi tertuang via gambar ilustrasi. Umumnya cerita persilatan, semacam Wiro Sableng dan Siluman Tengkorak Bolong. Dalam gambar, terlihat jelas jurus tangan menangkis pukulan, lengkap dengan garis angin tiupan dan percik energi yang ditimbulkannya. Dengan jajan Rp 5,- udah bisa baca satu buku. Sering, buku belum tamat, lonceng tanda masuk sudang terdengar bergema dari jauh. Lalu buru-buru , mengembalikan buku dan berlari ke lokal.


Teman.

Keasyikan membaca komik ini, seperti candu. Kita terbawa ke dalam khayal dunia pengarang. Badan duduk di bangku pajak, perasaan ikut pendekar pemberantas kemunkaran. Bagai dalam mimpi.


Sekali waktu, mimpi menemani pdndekar itu, terusik. Nun dari ketinggian teras mushalla Darul Hikmah, terdengar alunan merdu anak perempuan membaca Quran. Buyuang menoleh. Dua anak perempuan kecil, berpakaian putih , disimak bacaannya oleh garin mushalla. Tuk Oji Mali.

Tunggu, tidakkah itu Siti Hindun dan seorang temannya? Sebab, ditutup seadanya dengan "takuluak", rambut kepang dua kentara terlihat. Suaranya khas anak-anak. Bening bersih melengking. .......Rabbi laa tazarni fardan, wa Anta khairul waaarisiiiinn..." Cengkok alunannya mungkin biasa saja, tapi tajwid dan pelafazan hurufnya , "yobona rancak". Terkesima!


Jadi, di mushalla, ada privat les baca Quran ya? Dengan Tuk Oji Mali? Bukankah Tuk Oji Mali populer kemampuan qiroahnya di antero nagari?


"Bu. Den tagak soto baraja ngaji jo Tuk Oji Mali. Kaluea main, bisa ka mushalla." Buyuang Mipih taragak ikutan. Entah apa pula motivasi nawaitu Buyuang!!

Poi Barolek 11

 POI BAROLEK


11


Kalau tidak hari ini, mungkin minggu depan. Jika tidak minggu ini, mungkin bulan depan. Dan andai tidak bulan ini, tentu tahun depan. Itu, syair lagu yang lagi populer kan, dusanak?

Dua tahun di gedung ilia, kembali ke bangunan official,  SD 5 Talago. Mah Sikola Mudiak! Klas lima, sudah.....alhamdulillah jika klas 3 bersama bu Tinar, klas 4 dengan bu Emi, maka kini dibimbing bu Baya. Rumah beliau di Ampang Godang. Jadi, ada beberapa  bu guru Ampang Godang mencerdaskan putra putri Kotokociak. Bu Baya, Bu Seha dan bu Ulih. Bu Ulih, mengajar klas 6.


Aduh, perubahan tempat klas 5 artinya juga perubahan lokasi klas 3. "Belalang" kini giliran pindah ke Ilia..

Belalang? Ya. Atau kita sebut saja Siti Hindun. Nama yang umum di buku pelajaran SD zaman dulu. Seperti halnya, Fulan, untuk laki-laki. Sebab, jika ditulis nama aslinya, yang kini sudah diketahui Buyuang dari teman-teman, maka pembaca sekelas Ucok, akan dengan mudah merunut siapa mayai bapaknya, siapa mamak pengulunya, dimana rumahnya, dimana dia kini, dan siapa lakinya. . Bisa guling-guling Mogek dek kesenangan. Jan lai.....!!

Poi Barolek 10

 POI BAROLEK

10

Namun setidaknya, ada tiga hal yang teringat oleh Buyuang Mipih saat belajar di sekolah "ilia". 

Pertama, karena sudah mulai ada PR klas 3 dan badan yang tak kuat dingin udara baruah, maka tak lagi ke surau. Pendidikan agama, dicukupkan di sekolah, dan sama ibu di rumah. Sebelum tidur, ibu biasa bercerita tentang dongeng apa saja, semisal bertengkar tapi berbisik, emas warisan dalam tanah kebun, dll. Kami, Buyuang, sid Fuad dan Mardiah duduk di sekeliling ibu, diterangi lampu minyak tanah, yang kadang bisa padam jika ada angin kencang, atau tiba-tiba dihinggapi Camih di nyala apinya. Teman, tau kan, Camih? Itu, kupu kecil warna gelap , ngengat, yang suka cahaya malam. Fototrop positif. Sebenarnya ini bukan kupu (butterfly) tapi ngengat (moth). Butterfly itu, berwarna warni dan aktif di siang hari. 

Selain dongeng dan cerita, pernah juga ibu membacakan buku kisah perjuangan Rasul Muhammad saw. Bukunya tipis, bukan kayak karya Almubarakfury sekarang. Tapi ibu membacanya dengan penuh perasaan. Di paragraf Beliau saw dilempari kotoran unta dan kerikil, kami, tiga-tiganya menangis.  Lalu ibu menghentikan membaca. Beliau juga menyapukan jemari ke pelupuk mata, dan kami tidur...


Untungnya, pemerintahan jorong dan tokoh masyarakat, bersepakat membentuk Madrasah Awaliyah, lembaga pendidikan agama dari , oleh dan untuk masyarakat. Lokasinya, sekolah ilia. Waktunya, sore. Dan ibu, salah seorang yang diminta ikut mengajar. Ibu berkirim surat ke Padang, minta izin ke bapak. Diizinkan. Hingga, dua kali seminggu, Buyuang Mipih, Sid Fuad, kadang Mardiah ikut, menemani ibu mengajar. Muridnya, teman-teman sesama SD juga. Materinya, ayat pendek dan doa. Disinilah, Buyuang Mipih belajar doa untuk ibu bapak: Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma, kama Rabbayani saghira. Gak enaknya, karena kita anak bu guru, akan malu jika tak hafal. Beban!

Untunglah, Madrasah itu tak lama umurnya, ia seperti murid mengaji dimanapun; angek-angek cirik ayam. Hari demi hari, muridnya berkurang satu per satu. Lalu lenyap ditelan waktu. Tak ada lagi beban anak bu guru...


Hal kedua, adalah, berita gembira. Sid Fuad terpilih jadi murid teladan se kecamatan. Ada hadiahnya, walau telat diberikan. Dan ibu, membawa kami bertiga ke Payakumbuh, ke studio foto, untuk "bakodak". Tentu saja Buyuang gembira. Sebab akan memakai baju rancak, naik mobil ke Kota Kabupaten, dan tentu, sebelum pulang makan sate! Horeee....


Hal ketiga, karena tak ada lagi madrasah, Ipun, Ayang, Iwan, dan Liman, ngajak sid Fuad ngaji ke Padang Jopang. Sekali seminggu, Sabtu malam. Gurunya Pak Mamat. Rumahnya depan pokan Sinoyan. Muridnya ramai membludak. Padahal, beliau jika marah, cemeti rotan akan "berbicara". Jika kulit alergian, bekasnya memerah sampai pagi. Tiga kali salah membaca, padahal sudah diejakan beliau, maka , pik! Alamat meringis menanggung sakit. Buyuang merengek ikut. Menggunakan otoritas ibu, Sid Fuad bersedia membonceng pulang pergi. Melihat ada yang kena rotan, mental Buyuang ciut! Ia berusaha untuk tak salah baca. Alhamdulillah, aman🙏🙏

Poi Barolek 9

 POI BAROLEK

9


Agak lama dia nanap. Mungkin terkejut bertatapan, lalu frekuensi memori bekerja di otak, ujungnya: senyum. Ya , itu betul, gadis kecil yang bersua di rumah "rang barolek". Buyuang, melihat senyum, spontan senyum juga. Tak tau. Entah kenapa. Ingin Buyuang melafaz sebuah kata..."belalang!"

Tapi tak bergerak bibirnya. Lalu anak kecil itu cepat membelokkan wajahnya. Memandang mak nya. Yang berdiri tak jauh, di tuturan atap lokal klas 2.


Buyuang beberapa kali menatap lagi. Tapi tak berpandangan. Kadang terhalang oleh kepala murid lain.


Siswa klas 6, disuruh menyiapkan barisan. Semua rapi. Kecuali gerombolan murid baru, yang diatur berdiri nya oleh bu Eli. Dan pengumuman tentang pembagian area belajar itu, tiba. Seperti diduga, pak Awiskarni, yang pakai peci dan kacamata, berbaju putih pentolan krem, menyampaikan, karena keterbatasan ruang klas, maka klas 3 dan klas 4, belajar di gedung "ilia". Guru klas Buyuang, berganti dari bu Eli ke bu Tinar. Dan siswa klas 3 serta 4, berombongan, pindah. Sedih juga, pindah dari sekolah asri ke bangunan tua. Apa boleh buat. Toh, karena rame-rame, asyik juga... O iya, ini artinya, tak lagi bertemu dengan murid baru berkepang dua, belalang di rambutnya!. 

Teman, sejak klas 3 ini, Buyuang mulai ikut-ikutan makai minyak rambut uda nya. Pasta hijau dalam kaleng berbentuk elip. Ada gambar orang memakai rok panjang, dan tulisan Lavender Pomade di pinggirnya. Entah, pengen aja. 


Hari-hari berikutnya, rutinitas saja. Tak ada yang istimewa. Tak lagi belanja pical dan kacemuh. Di bawah pohon pojok halaman brlakang.


Tiap Kamis kan diberi jajan lima rupiah oleh ibu. Itu cukup untuk "two pieces" kacemuh. Irisan-irisan ubi kayu rebus, ditata bulat mirip sarabi, disiram kuah gula aren beraroma pandan.  Dimakan di piring kecil. Dengan sendok tapak itik. Sambil berdiri. Ya, kayak prasmanan taman orang-orang kini. Tak ada jajanan yang sanggup mengalahkan lezatnya.

Poi Barolek 8

 POI BAROLEK


(8)


Alhamdulillah, kawan.

Sekali dua kali minum pil obat mantari Tanjung Jati, terasa ringan demam Buyuang. Besoknya ia sudah main lagi ke halaman. Melukis imajinasinya di tanah. Tak pergi dia ke Rumah Godang, apalagi ke Sinama. Ibunya bisa marah, jika belum sembuh sekali, sudah malala...


Hari ke dua sudah sehat. Tapi obat di kantong plastik masih tersisa. Kata pak mantri, minum sampai habis. Maka dia minum sampai hari ke tiga. Satu diantara tiga jenis itu, pahit. Tapi apa boleh buat, "cirit kambing bulat-bulat",...


Jika tak sembuh seperti sekarang, alamat takkan bisa masuk sekolah, besok. Ya, besok Senin, dan ia akan menjadi murid klas tiga. Kata murid yg lebih tua, klas tiga itu belajar di gedung lama, nun depan pajak pak Duwani, dekat pajak Tuk Carih. Lokalnya lebih lebar, halaman luas, tapi kalah asri dibanding yg sebelah barat. Apa mau dikata, yang jelas besok pagi kumpul berbaris dulu di "mahsikola mudiak". Nanti pak Awiskarni yang akan mengumumkan, lokasi ruang belajar.


Maka pagi Senin, Buyuang sudah bangun. Shalat subuh, mandi cotok ayam, pakai baju rapi, sarapan. Pagi ini ibu merebus telur ayam. Ayam "panjang tolua" Sid Fuad sudah belasan narok telur di sangkak. Kata ibu, untuk dierami cukup sepuluh saja. Kebanyakan anak, ntar juga pada mati. Ada yang nyemplung ke kolam, ada yang runguah sakit, dan kadang disambar elang di tengah kebun.

Maka telur rebus, dibelah ibu jadi dua bagian. Setengah untuk sid Fuad dan setengah untuk Buyuang. Sesekali makan telur rebus, enak juga ya? Apalagi bagian tengah bundar kuning kebiruan ini, gurih. Pagi yang indah....


Di halaman belakang sekolah mulai ramai. Buyuang mencari teman kelasnya. Ih Saik, Das Kinah, Iwan Sidun, Oyong, Iwan Turiah, Adam, Pendi, Busra, Adek dan mulai mengelompok membentuk barisan. Anak-anak perempuan di depan; Inen, Etis, Tuti, Is, Inda, Timah, Pini, dan lainnya.


Di barisan sebelah kirinya, murid klas dua. Baru naik dari klas satu. Dan di kirinya lagi, murid baru. Klas satu, yang wajahnya masih ragil takut-takut. Mereka didampingi oleh orang tua. Umumnya ibu-ibu. Lihat, yang laki-laki ternganga memandang sekitar, dan yang perempuan, begitu pula. Ada yang bedaknya tebal. Mungkin Viva no 14.


Dan, amboi, bukankah yang berdiri agak di depan itu, gadis kecil sesama poi barolek dulu? Ya! Rambutnya dijalin kepang dua. Kepalanya kecil. Matanya bulat. Jelas! Pasti!

Anak yang dulu di rambutnya hinggap belalang hijau. Lalu dia bantu menangkapkannya. Jika tak malu, ingin Buyuang Mipih mendekat. Apakah senyumnya masih manis seperti permen di pajak bang Dimea Congkong?

Entah bagaimana, lama-lama, anak klas satu baru, kepang dua itu, menoleh juga...

🤭🤭🤭

Tuesday, March 3, 2026

Poi Barolek 7

 POI BAROLEK

(7)


Tak taulah Buyuang Mipih, sudah jam berapa larut malam. Uda-uda yang remaja itu masih ngobrol. Buyuang mana biasa tidur larut malam. Sehabis makan nasi hangat belut balado, matanya mulai redup. Maka dia menepi, merebahkan badan dekat dinding kamar belakang surau yang dipenuhi karung sumpik berisi padi. Sesekali bunyi itik mendesis dari bawah lantai. Di teras luar, sayup terdengar uda-uda maota. Topiknya bermacam-macam. Kadang diselingi tawa terbahak. Terdengar pujian, bahwa Ita itu cantik. Lalu yang lain menyela, Iwit juga coga. Antara terjaga dan tidur, masih sayup topik pembicaraan tentang cita-cita ingin seperti bang Dimea, punya toko, punya mobil dan istrinya bagai rembulan. Lalu diam. Entah, memang diam benaran, atau Buyuang Mipih larut tidur lelap berbalut sarung pudar......


Teman,

Kata orang baik dan buruk itu dipergantikan. Tawa dan tangis juga begitu. Mujur tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak. Besoknya, Buyuang Mipih demam panas. Dia merengek ke ibunya. Selera patah. Bersin-bersin. Tiduran. Dan kadang terasa dingin.

Mulailah ibunya menyiasati, habis main apa, makan apa, dimana. "Bagodang. Pek longgea...." jawab Buyuang. Ibunya mengatupkan bibir. Anak tiga orang dia asuh tiap hari. Bapak, nun di Padang, baru saja pindah dari Sangir, Solok Selatan. Bapak pulang sekali tiga bulan. Maka sakit-senang dikunyah ibu, sendiri. Untuk berkonsultasi, ada Nenek dan Kakek. Nenek itu, petani penjual tiap Kamis. Kakek, mdmotong rambut orang sekampung, tiap Kamis , nun di pajak 50 m timur Simpang Congkong.

"Kok tatogun? Siramlah jo aia sitawea sidingin. Mintak ubek ka Tanjuang Jati!" Saran Nenek.

"Salemo domam reh, ka toko ubek ajolah. Pek pandakian lopeh simpang Talago ka Tanjuang Jati,..." tukas Kakek.

Ibu mrmetik sitawea sidingin sikumpai sikorau di baruah, dekat mata air pincuran mandi. Dia rendam di mangkok dan Buyuang diperciki airnya. " Bismillah,.." Siiiir....dingin mengejutkan. Tapi ia tahankan saja. Ia tak mau ibunya sedih.

Besoknya tak sembuh juga. Maka dibonceng Buyuang Mipih kecil ke toko obat Batas Talago Tanjung Jati. Di rumah toko yang terasnya dari beton, Buyuang terduduk. Ibu memanggil "mantri obat". Dari jendela yang terbuka, muncul seorang lelaki paro baya.  Pembawaannya dingin. Keningnya rada botak. Memakai kaus oblong putih. Mungkin mereknya swan, yang ada gambar angsa merah di kuduknya.

Lalu ibu menceritakan keadaan Buyuang. Lelaki itu memandang dengan seksama. 

"Co apak osok konyiang ang!" Katanya. Lalu tangannya mengusap kening. Buyuang , entah kenapa, dipegang begitu, udah serasa nyaman, sembuh.

Lalu lelaki itu masuk ke dalam. Ibu menunggu. Lama. Lebih 10 menit. Setelah keluar, ia membawa pil dalam kantong plastik. Tiga macam. Iko INH, iko Trisulfa. Minum pagi jo sonjo..." pesannya.

"Iko bodrexin. Sakali sapagi ajo.!" Tambah beliau. 

"Bara piti eh ko Tuan?" Tanya Ibu.

"Ompek puluah rupiah...."jawab bapak itu. Dan kami kembali pulang. Digonceng ibu. Sepeda ontel merek Valuas. Berderit-derit gesekan gowesnya menyentuh tutup rantai, melintas bebatuan menuju Simpang Congkong.

"Nan kadatang, olah reh bagodang juo! Badan ang indak sakuek urang do. Lotiak-lotiak. Kalau lah sakik, marano sorang, kojo kacewo, piti abih!"

Buyuang menekur di boncengan. Dalam hidup dia hanya Ibu yang sepenuh hati menyayangi.....

Monday, March 2, 2026

Poi Barolek 6

 POI BAROLEK 


6


Setelah shalat, berlarian mendaki tanjakan tebing, pulang. Piring kosong di tangan. Sarung, yang warnanya memudar, membelit leher. Tebing nanjak belok kiri, belok kanan, melewati batang Kalumpang besar, yang akar banirnya menonjol di lubang pasir tebing, lalu sampai di jalan mendatar. Terengah-engah berlari, ganti baju yang bersih, ambil batu tulis, sarapan dan jalan ke sekolah.


Teman,

Belum ada seragam sekolah tahun itu. Juga belum disuruh pakai sepatu. Seragam putih dongker baru dimulai sekitar 1974. Dongker itu, istilah ibuku untuk ungu tua. Deep purple!

Warna itu kemudian berubah secara nasional jadi merah putih. Begitu juga SMP, awalnya abu-abu putih, berubah jadi dongker putih, dan abu-abu jadi milik SMA.

Sebagian teman memakai sandal partakus, lainnya sulap lily, sisanya "tarompah jopang". Belajar klas 1 dan 2 di gedung barat ( mah sikola mudiak) klas 3 dan 4 di gedung lama ( mah sikola ilie) dan klas 5 serta 6 kembali ke gedung barat.

Pulang sekolah, simpan batu tulis, makan dan main. Rumah Godang Pitopang, Pajak Mak Imam Padang, Masojik , sawah dan Sinama, adalah arena bermain kami, anak kampung. Sore kembali menyungkup, Buyuang Mipih melangkah ke surau, dengan sepiring nasi, lauk sapek siam, samba karambia, menuju surau. Di halaman surau, nasi sudah tandeh. Lunas!

Jika kami anak-anak mendapat kabar dari Uluk, bahwa mak Imam tak ke surau malam ini, maka anak-anak yang lebih besar, lansung membuat rencana, begadang, sehabis mencari belut. Uluk, adalah anak mak Anwar Imam. Umurnya, beberapa tahun lebih tua dari Buyuang.


Sensasi berjalan rame-rame di pematang sawah, sambil membawa lampu colok, lalu sesekali da Puan, da Madi, Liman, Ipun, Buyuang Picak, da Eri dan entah siapa lagi, membacokkan parang ke lumpur, itu tak ada duanya. Belut terluka. Dikumpul di ember. Melangkah lagi. Pelan. Bocah kecil Buyuang Mipih akan berjalan paling belakang. Tak boleh bicara. Ssst. Ntar, belutnya lari...

Dalam satu jam sudah dapat belasan ekor. Balik ke surau. Cuci potong. Masak dengan garam. Buyuang Mipih tak tau, bagaimana anak yang lebih besar bisa punya beras, cabe serta garam.  

Dimasak di tungku batu halaman surau. Dekat papan cucian pematang kolam. Di rimbun daun gulam dan daun jambu. Aneh, ketika rame begini, ingatan tentang hantu atau harimau cindaku, tak ada sama sekali.

Hanya menyeruak aroma nasi panas dan belut goreng balado. Wuihhh!!!