POI BAROLEK
12
Alternatif lain jajan adalah seberang pajak Tuk Nuran. Kios buku komik. Ya, dulu toko ini pernah jadi sewaan buku komik. Berbagai macam judul. Disusun di rak dinding dan dalam etalase. Anak-anak membaca buku komik, seakan menonton film. Imajinasi tertuang via gambar ilustrasi. Umumnya cerita persilatan, semacam Wiro Sableng dan Siluman Tengkorak Bolong. Dalam gambar, terlihat jelas jurus tangan menangkis pukulan, lengkap dengan garis angin tiupan dan percik energi yang ditimbulkannya. Dengan jajan Rp 5,- udah bisa baca satu buku. Sering, buku belum tamat, lonceng tanda masuk sudang terdengar bergema dari jauh. Lalu buru-buru , mengembalikan buku dan berlari ke lokal.
Teman.
Keasyikan membaca komik ini, seperti candu. Kita terbawa ke dalam khayal dunia pengarang. Badan duduk di bangku pajak, perasaan ikut pendekar pemberantas kemunkaran. Bagai dalam mimpi.
Sekali waktu, mimpi menemani pdndekar itu, terusik. Nun dari ketinggian teras mushalla Darul Hikmah, terdengar alunan merdu anak perempuan membaca Quran. Buyuang menoleh. Dua anak perempuan kecil, berpakaian putih , disimak bacaannya oleh garin mushalla. Tuk Oji Mali.
Tunggu, tidakkah itu Siti Hindun dan seorang temannya? Sebab, ditutup seadanya dengan "takuluak", rambut kepang dua kentara terlihat. Suaranya khas anak-anak. Bening bersih melengking. .......Rabbi laa tazarni fardan, wa Anta khairul waaarisiiiinn..." Cengkok alunannya mungkin biasa saja, tapi tajwid dan pelafazan hurufnya , "yobona rancak". Terkesima!
Jadi, di mushalla, ada privat les baca Quran ya? Dengan Tuk Oji Mali? Bukankah Tuk Oji Mali populer kemampuan qiroahnya di antero nagari?
"Bu. Den tagak soto baraja ngaji jo Tuk Oji Mali. Kaluea main, bisa ka mushalla." Buyuang Mipih taragak ikutan. Entah apa pula motivasi nawaitu Buyuang!!