Friday, March 6, 2026

Poi Barolek 10

 POI BAROLEK

10

Namun setidaknya, ada tiga hal yang teringat oleh Buyuang Mipih saat belajar di sekolah "ilia". 

Pertama, karena sudah mulai ada PR klas 3 dan badan yang tak kuat dingin udara baruah, maka tak lagi ke surau. Pendidikan agama, dicukupkan di sekolah, dan sama ibu di rumah. Sebelum tidur, ibu biasa bercerita tentang dongeng apa saja, semisal bertengkar tapi berbisik, emas warisan dalam tanah kebun, dll. Kami, Buyuang, sid Fuad dan Mardiah duduk di sekeliling ibu, diterangi lampu minyak tanah, yang kadang bisa padam jika ada angin kencang, atau tiba-tiba dihinggapi Camih di nyala apinya. Teman, tau kan, Camih? Itu, kupu kecil warna gelap , ngengat, yang suka cahaya malam. Fototrop positif. Sebenarnya ini bukan kupu (butterfly) tapi ngengat (moth). Butterfly itu, berwarna warni dan aktif di siang hari. 

Selain dongeng dan cerita, pernah juga ibu membacakan buku kisah perjuangan Rasul Muhammad saw. Bukunya tipis, bukan kayak karya Almubarakfury sekarang. Tapi ibu membacanya dengan penuh perasaan. Di paragraf Beliau saw dilempari kotoran unta dan kerikil, kami, tiga-tiganya menangis.  Lalu ibu menghentikan membaca. Beliau juga menyapukan jemari ke pelupuk mata, dan kami tidur...


Untungnya, pemerintahan jorong dan tokoh masyarakat, bersepakat membentuk Madrasah Awaliyah, lembaga pendidikan agama dari , oleh dan untuk masyarakat. Lokasinya, sekolah ilia. Waktunya, sore. Dan ibu, salah seorang yang diminta ikut mengajar. Ibu berkirim surat ke Padang, minta izin ke bapak. Diizinkan. Hingga, dua kali seminggu, Buyuang Mipih, Sid Fuad, kadang Mardiah ikut, menemani ibu mengajar. Muridnya, teman-teman sesama SD juga. Materinya, ayat pendek dan doa. Disinilah, Buyuang Mipih belajar doa untuk ibu bapak: Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma, kama Rabbayani saghira. Gak enaknya, karena kita anak bu guru, akan malu jika tak hafal. Beban!

Untunglah, Madrasah itu tak lama umurnya, ia seperti murid mengaji dimanapun; angek-angek cirik ayam. Hari demi hari, muridnya berkurang satu per satu. Lalu lenyap ditelan waktu. Tak ada lagi beban anak bu guru...


Hal kedua, adalah, berita gembira. Sid Fuad terpilih jadi murid teladan se kecamatan. Ada hadiahnya, walau telat diberikan. Dan ibu, membawa kami bertiga ke Payakumbuh, ke studio foto, untuk "bakodak". Tentu saja Buyuang gembira. Sebab akan memakai baju rancak, naik mobil ke Kota Kabupaten, dan tentu, sebelum pulang makan sate! Horeee....


Hal ketiga, karena tak ada lagi madrasah, Ipun, Ayang, Iwan, dan Liman, ngajak sid Fuad ngaji ke Padang Jopang. Sekali seminggu, Sabtu malam. Gurunya Pak Mamat. Rumahnya depan pokan Sinoyan. Muridnya ramai membludak. Padahal, beliau jika marah, cemeti rotan akan "berbicara". Jika kulit alergian, bekasnya memerah sampai pagi. Tiga kali salah membaca, padahal sudah diejakan beliau, maka , pik! Alamat meringis menanggung sakit. Buyuang merengek ikut. Menggunakan otoritas ibu, Sid Fuad bersedia membonceng pulang pergi. Melihat ada yang kena rotan, mental Buyuang ciut! Ia berusaha untuk tak salah baca. Alhamdulillah, aman๐Ÿ™๐Ÿ™

No comments:

Post a Comment