POI BAROLEK
13
Ketimbang mengaji di surau malam-malam, elok pulo lah ke Darul Hikmah siang atau sore sepulang sekolah. Muridnya tak membludak dan durasi bisa dari pagi sampai sore. Asalkan Tuk Oji Mali tidak sedang makan, tidak sedang di toilet. Tuk Oji malah senang murid bergantian datang, tak serempak. Beliau bisa fokus menyimak dan membetulkan lafaz tajwid.
Jika beliau sedang makan atau buang air, kita bisa sabar nunggu di teras atas. Sambil melihat-lihat orang lewat di jalan. Kadang pak Wali menggantiah keta arah ke mudiak. Atau Idun Gantang mendorong gerobak arah ke hilir. Ataupun, Kotik Kileh pergi mengaji ke Tobieng Runtuah..
Sesaat, Tuk Oji Mali, naik ke lantai dua. Berangsur-angsur. Memakai tongkat. Badan beliau besar dan tangga agak tinggi. Terkadang beliau berhenti dulu sejenak di pertengahan. Sabar.
Lalu beliau sampai di lantai atas. Memandang murid dengan senyum. Berjalan ke teras dekat pintu. "Menjanguah" ke jalan, lalu duduk, setelah tongkat beliau sandarkan.
"Bacolah. Surek apo kapotang?"
"Al Baqarah roka' ka tigo, Atuk"
"Iyo. Auzubilah basmalah..."
Diam sejenak. Mengambil nafas. Memandang halaman Quran dengan fokus. Lalu mengumandangkan taawudz dan basmalah. Sewaktu itu, nawaitu Buyuang, baru sekedar ingin dinilai pintar oleh guru, bacaan dialun dicengkokkan. Jauh dari mencari haribaan kasih murni dari Tuhan...
Nde bilalang!
Tak jua bersua Siti Hindun di Mushalla. Sudah berkali kali pergi mengaji di jam istirahat. Dia tiada pernah terlihat.
Andai, saat turun di tangga mushalla, lalu berpapasan,..ah. ...Atau ketika masih mengaji, Siti datang dengan tenannya.....duh!
Lalu, kenapa terlihat dia mengaji minggu lalu? Apakah itu aksidental saja? Biasanya sore, lalu karena satu hal, dimajukan pagi? Entahlah. Tuhan Yang Maha Tau. ...
Sebulan dua bulan, berhenti pula lah Buyuang les ngaji. Tak dipungkiri, habis motivasi. Ke sawah Sinama, Buyuang kembali. Main Layangan dan berkecimpung mandi....
No comments:
Post a Comment