POI BAROLEK
(8)
Alhamdulillah, kawan.
Sekali dua kali minum pil obat mantari Tanjung Jati, terasa ringan demam Buyuang. Besoknya ia sudah main lagi ke halaman. Melukis imajinasinya di tanah. Tak pergi dia ke Rumah Godang, apalagi ke Sinama. Ibunya bisa marah, jika belum sembuh sekali, sudah malala...
Hari ke dua sudah sehat. Tapi obat di kantong plastik masih tersisa. Kata pak mantri, minum sampai habis. Maka dia minum sampai hari ke tiga. Satu diantara tiga jenis itu, pahit. Tapi apa boleh buat, "cirit kambing bulat-bulat",...
Jika tak sembuh seperti sekarang, alamat takkan bisa masuk sekolah, besok. Ya, besok Senin, dan ia akan menjadi murid klas tiga. Kata murid yg lebih tua, klas tiga itu belajar di gedung lama, nun depan pajak pak Duwani, dekat pajak Tuk Carih. Lokalnya lebih lebar, halaman luas, tapi kalah asri dibanding yg sebelah barat. Apa mau dikata, yang jelas besok pagi kumpul berbaris dulu di "mahsikola mudiak". Nanti pak Awiskarni yang akan mengumumkan, lokasi ruang belajar.
Maka pagi Senin, Buyuang sudah bangun. Shalat subuh, mandi cotok ayam, pakai baju rapi, sarapan. Pagi ini ibu merebus telur ayam. Ayam "panjang tolua" Sid Fuad sudah belasan narok telur di sangkak. Kata ibu, untuk dierami cukup sepuluh saja. Kebanyakan anak, ntar juga pada mati. Ada yang nyemplung ke kolam, ada yang runguah sakit, dan kadang disambar elang di tengah kebun.
Maka telur rebus, dibelah ibu jadi dua bagian. Setengah untuk sid Fuad dan setengah untuk Buyuang. Sesekali makan telur rebus, enak juga ya? Apalagi bagian tengah bundar kuning kebiruan ini, gurih. Pagi yang indah....
Di halaman belakang sekolah mulai ramai. Buyuang mencari teman kelasnya. Ih Saik, Das Kinah, Iwan Sidun, Oyong, Iwan Turiah, Adam, Pendi, Busra, Adek dan mulai mengelompok membentuk barisan. Anak-anak perempuan di depan; Inen, Etis, Tuti, Is, Inda, Timah, Pini, dan lainnya.
Di barisan sebelah kirinya, murid klas dua. Baru naik dari klas satu. Dan di kirinya lagi, murid baru. Klas satu, yang wajahnya masih ragil takut-takut. Mereka didampingi oleh orang tua. Umumnya ibu-ibu. Lihat, yang laki-laki ternganga memandang sekitar, dan yang perempuan, begitu pula. Ada yang bedaknya tebal. Mungkin Viva no 14.
Dan, amboi, bukankah yang berdiri agak di depan itu, gadis kecil sesama poi barolek dulu? Ya! Rambutnya dijalin kepang dua. Kepalanya kecil. Matanya bulat. Jelas! Pasti!
Anak yang dulu di rambutnya hinggap belalang hijau. Lalu dia bantu menangkapkannya. Jika tak malu, ingin Buyuang Mipih mendekat. Apakah senyumnya masih manis seperti permen di pajak bang Dimea Congkong?
Entah bagaimana, lama-lama, anak klas satu baru, kepang dua itu, menoleh juga...
ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
No comments:
Post a Comment