POI BAROLEK
9
Agak lama dia nanap. Mungkin terkejut bertatapan, lalu frekuensi memori bekerja di otak, ujungnya: senyum. Ya , itu betul, gadis kecil yang bersua di rumah "rang barolek". Buyuang, melihat senyum, spontan senyum juga. Tak tau. Entah kenapa. Ingin Buyuang melafaz sebuah kata..."belalang!"
Tapi tak bergerak bibirnya. Lalu anak kecil itu cepat membelokkan wajahnya. Memandang mak nya. Yang berdiri tak jauh, di tuturan atap lokal klas 2.
Buyuang beberapa kali menatap lagi. Tapi tak berpandangan. Kadang terhalang oleh kepala murid lain.
Siswa klas 6, disuruh menyiapkan barisan. Semua rapi. Kecuali gerombolan murid baru, yang diatur berdiri nya oleh bu Eli. Dan pengumuman tentang pembagian area belajar itu, tiba. Seperti diduga, pak Awiskarni, yang pakai peci dan kacamata, berbaju putih pentolan krem, menyampaikan, karena keterbatasan ruang klas, maka klas 3 dan klas 4, belajar di gedung "ilia". Guru klas Buyuang, berganti dari bu Eli ke bu Tinar. Dan siswa klas 3 serta 4, berombongan, pindah. Sedih juga, pindah dari sekolah asri ke bangunan tua. Apa boleh buat. Toh, karena rame-rame, asyik juga... O iya, ini artinya, tak lagi bertemu dengan murid baru berkepang dua, belalang di rambutnya!.
Teman, sejak klas 3 ini, Buyuang mulai ikut-ikutan makai minyak rambut uda nya. Pasta hijau dalam kaleng berbentuk elip. Ada gambar orang memakai rok panjang, dan tulisan Lavender Pomade di pinggirnya. Entah, pengen aja.
Hari-hari berikutnya, rutinitas saja. Tak ada yang istimewa. Tak lagi belanja pical dan kacemuh. Di bawah pohon pojok halaman brlakang.
Tiap Kamis kan diberi jajan lima rupiah oleh ibu. Itu cukup untuk "two pieces" kacemuh. Irisan-irisan ubi kayu rebus, ditata bulat mirip sarabi, disiram kuah gula aren beraroma pandan. Dimakan di piring kecil. Dengan sendok tapak itik. Sambil berdiri. Ya, kayak prasmanan taman orang-orang kini. Tak ada jajanan yang sanggup mengalahkan lezatnya.
No comments:
Post a Comment