POI BAROLEK
6
Setelah shalat, berlarian mendaki tanjakan tebing, pulang. Piring kosong di tangan. Sarung, yang warnanya memudar, membelit leher. Tebing nanjak belok kiri, belok kanan, melewati batang Kalumpang besar, yang akar banirnya menonjol di lubang pasir tebing, lalu sampai di jalan mendatar. Terengah-engah berlari, ganti baju yang bersih, ambil batu tulis, sarapan dan jalan ke sekolah.
Teman,
Belum ada seragam sekolah tahun itu. Juga belum disuruh pakai sepatu. Seragam putih dongker baru dimulai sekitar 1974. Dongker itu, istilah ibuku untuk ungu tua. Deep purple!
Warna itu kemudian berubah secara nasional jadi merah putih. Begitu juga SMP, awalnya abu-abu putih, berubah jadi dongker putih, dan abu-abu jadi milik SMA.
Sebagian teman memakai sandal partakus, lainnya sulap lily, sisanya "tarompah jopang". Belajar klas 1 dan 2 di gedung barat ( mah sikola mudiak) klas 3 dan 4 di gedung lama ( mah sikola ilie) dan klas 5 serta 6 kembali ke gedung barat.
Pulang sekolah, simpan batu tulis, makan dan main. Rumah Godang Pitopang, Pajak Mak Imam Padang, Masojik , sawah dan Sinama, adalah arena bermain kami, anak kampung. Sore kembali menyungkup, Buyuang Mipih melangkah ke surau, dengan sepiring nasi, lauk sapek siam, samba karambia, menuju surau. Di halaman surau, nasi sudah tandeh. Lunas!
Jika kami anak-anak mendapat kabar dari Uluk, bahwa mak Imam tak ke surau malam ini, maka anak-anak yang lebih besar, lansung membuat rencana, begadang, sehabis mencari belut. Uluk, adalah anak mak Anwar Imam. Umurnya, beberapa tahun lebih tua dari Buyuang.
Sensasi berjalan rame-rame di pematang sawah, sambil membawa lampu colok, lalu sesekali da Puan, da Madi, Liman, Ipun, Buyuang Picak, da Eri dan entah siapa lagi, membacokkan parang ke lumpur, itu tak ada duanya. Belut terluka. Dikumpul di ember. Melangkah lagi. Pelan. Bocah kecil Buyuang Mipih akan berjalan paling belakang. Tak boleh bicara. Ssst. Ntar, belutnya lari...
Dalam satu jam sudah dapat belasan ekor. Balik ke surau. Cuci potong. Masak dengan garam. Buyuang Mipih tak tau, bagaimana anak yang lebih besar bisa punya beras, cabe serta garam.
Dimasak di tungku batu halaman surau. Dekat papan cucian pematang kolam. Di rimbun daun gulam dan daun jambu. Aneh, ketika rame begini, ingatan tentang hantu atau harimau cindaku, tak ada sama sekali.
Hanya menyeruak aroma nasi panas dan belut goreng balado. Wuihhh!!!
No comments:
Post a Comment