POI BAROLEK
14
Ke sawah Sinama Buyuang kembali. Main layangan dan berkecimpung mandi.
Itu mirip lirik lagu Kusplus ya kawan? Ke Jakarta aku kan kembali, walau apa yang kan terjadiii....🎵🎶
Ya. Sinama itu adalah kehidupan. Ia memberi air sawah melalui tadah kincir air. Ia memberi ikan lonjieng melalui popah kincir. Ia memberi tibarau dan mansai melalui mata pancing. Ia memberi udang yang memerah , terbakar matahari menyengat batu. Ia juga memberi pasir dan kerikil untuk bangunan. Ia memberi puyu dan sapek di sela bonto pinggiran. Dan ia memberi keceriaan berenang seharian. Ia juga memberi keteduhan dalam senandung gemercik sela batu dan tiang kayu..... Jika engkau pulang, wahai dagang rantau, sentuhlah air sinama dengan jemarimu... basuhlah muka dan tangan kakimu...
Di pinggirnya ada aur dan betung. Ada beringin dan ampolu. Ada murbei merah jambu. Rasa buah murbei itu manis sendu...
Jika lelah jiwa ragamu
Sempatkan "mencangkuang" sejenak di tepinya.
Sekedar memandang buih berkejaran dari hulu
Terayun ayun, mengangguk-angguk, senyum menyapa...
Bagi Buyuang, Sinama tak sekedar inspirasi, tapi juga biang kematian. Sudah dinasehati nenek dan ibu, jika "aia koruah" jangan mandi. Tapi rombongan kami, Sid Fuad, Liman, dan da Buyuang Picak jika tak salah ingat, juga It dan Icun, sepakat, gak apa-apa mandi, asal di pinggiran. Di tempat yang tak terlalu dalam dan deras.
Maka baju dibuka. Juga celana. Byur! Di pinggiran saja...
Datanglah Abuca. Anak berkulit hitam, berambut tegak. Umurnya di bawah Buyuang, Icun dan It. Dia tak biasanya ikut main dengan kami. Dia lalu ikut nyemplung. Dan saat berenang dekat Buyuang Mipih, dia dorong Buyuang ke tengah. Ke arus deras dan dalam. Persis di atas kincir pak Aneh.
Cepat Buyuang mengibaskan tangan. Menepi. Untung tersenggol rumput kumpai. Spontan Buyuang berpegang. Dan cepat menepi. Dada berdebar. Abuca tertawa-tawa. Buyuang berhenti mandi. Naik ke darat.
"Ba dek lah baronti?" tanya uda-uda itu.
"Den ditulak-an Abuca ka tongah, ampie bona diputea kincia kok indak tapogang jo umpuk!"
Uda-uda itu terdiam. Mereka memandang ke Abuca. Abuca berhenti berenang. Menunduk, dia naik ke tepian. Mengambil pakaian. Mungkin berniat kabur.
Tapi uda-uda itu, ditambah Icun dan It mencegahnya. "Iyo ang tulak-an adiak kami!" Uda-uda bertanya. Abuca menunduk. Sambil berangsur memasang celana. Entah siapa yang bilang, tenju kapalo eh,..maka Icun langsung mengayunkan kepalannya. Tak kena. Cuma garegak saja. It pun mendekat. Bersiap memberi bogem mentah. Abuca bersurut, tapi ia mulai memasang kuda-kuda. Tak ada pilihan lain, selain "bacokak", mungkin begiti fikirnya. Maka Buyuang mengambil kesempatan. Ikut mengurung Abuca dengan jemari terkepal. Ampiang mati den cako, dek ulah ang!!
No comments:
Post a Comment