POI BAROLEK (3).
Tak berapa lama, ibu Buyuang Mipih membawanya pulang ke rumah. Mangkok mungkin sudah diisi dengan ajik, gelamai atau "silomak berbungkus hijau mengkilap" yang aromanya harum. Jangan-jangan, karena rasanya enak, maka orang kampung Buyuang menamainya Silomak. Lomak itu, enak. Gurih!
Maka tinggallah teman kecil bermata jelita. Rambut kepang dua, senyumnya indah.
Di masa awal sekolahan begitu, kenangan, mudah hilang. Apalagi besoknya, ada kenangan yang lain lagi. Misalnya, main ayunan di batang kelapa pinggir sawah, atau mandi berlama-lama di batang Sinama. Paling, jika Buyuang ingat, dia lukis gambar di tanah halaman. Kepala kecil dengan rambut dijalin dua.
Dan besoknya akan kembali hilang dari ingatan. Sebab Buyuang telah berjalan bersama temannya, menjelang maghrib ke surau di baruah masjid. Nasi untuk makan malam, dipegang di piring. Naasnya, nasi itu sering sudah habis disuap sepanjang jalan. Di penurunan ke masjid, tersisa genggaman terakhir. Lalu lunas! Habis!.
Malamnya mengaji ...
No comments:
Post a Comment