Monday, February 23, 2026

Poi Barolek. (2)

 POI BAROLEK


2


Jika saja ibunya mengizinkan, tentu Buyuang Mipih kecil ingin menambah nasi sesendok dua sendok lagi. Tapi ibu bilang,"olah, ...basuah tangan ang!"

Dan bayangan Buyuang tentang sepotong daging kalio, rubik renyah balado serta gulai "cimbodak" terhenti. Malu, jika merengek minta tambah nasi serta lauk. "Konak-an parabuang e reh Bu, Ncu, ..." terdengar sipangka pelayan menyuruh makan kue. Ajik, galamai, kue sopik, kuo loyang, kue sagun, agar merah putih, bolu ikan kecil dan lenhkap pisang buai tutuak serta pisang mas. Eh, pisang-manyih!

Ibu mengambilkan agar merah putih. Faham sangatlah, ibu dengan selera dia. Mungkin karena mato Buyuang memandang jua, ke kue lembut manis itu.

"Wak urak selo lai Ncu, ten lah banyak pulo nan mananti pek laman!" Terdengar suara seorang mak-mak. Lalu kami serempak turun. Meninggalkan orang yang makin ramai, dan hidangan, yang lezat itu.


Di halaman, ibu dicegat oleh mak-mak dari arah samping rumah. 

"Weh, bu Sidea, ancik pulang pulo, kami isi, mangkuak ibu dulu!"

Itu adat di kampung, saling bawa dan saling beri. Apalagi jika dusanak dekat, tentu akan membawa "kibang tunggak". Teman, tau kah engkau kibang tunggak? Tentu tidak, sebab sekarang, jangankan kibang tunggak, kibang biasa saja, susah ditemukan. Wadah tempat berbagai makanan dan barang, terbuat dari anyaman bambu. Bagian bibirnya membulat, tapi dasar bawahnya cendrung segi empat. 


He, anak kecil yang tadi ikut makan, rambut kepang dua, matanya "rancak" juga ikut menunggu mangkok bersama ibu-ibu lain. Dan sesama ibu-ibu itu saling bercerita. Buyuang Mipih tak tertarik dengan cerita orang-orang tua itu. Ia lebih senang menatap anak kecil itu, yang wajahnya berseri. Berseri dan seperti senyum..

Terpesona. 

Buyuang mendekat dan membantu menangkapkan belalang kecil yang hinggap di kepala rambut kepang dua. Sejak kemarin, mungkin di rumah ini dipasang lampu stromking banyak, mengundang serangga datang. Fototrop positif!

Satu diantaranya terbang dan hinggap di kepala anak ibu yang sesama makan tadi. Buyuang menjangkaukan tangan perlahan. Hop! Belalang hijau itu tertangkap. Senang. Lalu memberikannya ke anak, yang Buyuang tak tau, siapa namanya....