POI BAROLEK
(5)
Pagi subuh, biasanya kami sudah berderet di pinggir pematang kolam. Anak kecil dengan bekas iler. Sama menarik karet celana, lalu buang air kecil. Seperti "pincuran kecil" membasahi rumput dan menyiram kepala ikan pantau-intan. Itu, ikan kecil, yang di kepalanya ada titik putih berkilau. Mak Imam, dan da Madi, serta uda lainnya, sering bilang, "takoncieng jan sambie togak, mancangkuang!" Tapi entah kenapa, pagi subuh begitu, kami instink saja, sambil berdiri...
Ritual berikutnya adalah "manjuk-aia". Ini istilah kami untuk berwuduk. Lalu shalat subuh di masjid. Uda-uda yang lebih besar, selalu mengambil daun rumput bonto, di pematang kolam besar depan masjid. Helaian daun itu digumpal-gumpal dengan jemari, lalu digosokkan ke gigi. Kami, kadang mengikuti prilaku mereka. Tapi lebih sering malas, dan mengacuhkannya.
Prilaku malas itu juga kronis untuk "manjuak-aia" shalat isya. Kami anak kecil, akan berdalih," uluak kami olun lopeh". Sesungguhnya, kami takut ke sumur masjid atau ke papan tempat mencuci pakaian pinggir kolam di malam hari. Bagaimana jika di bawah pohon jambu atau pohon gulam di lereng tebing, duduk harimau cindaku? Begitu kami menunduk mencuci muka, kuduk kami dikelupasnya dari belakang? Bukankah begitu cerita yang sering keluar dari mulut uda-uda yang lebih besar?
Kata Liman, cindaku tak menyerang dari depan. Di kening kita anak muslim ada tanda kalimah tauhid. Cindaku takut dengan tanda tauhid itu. Jadi dia menyungkah anak-anak dari belakang. Hiiiii....
Mending nahan kentut, tak batal uduk aja dah!